Senin , 19 Februari 2018
Home / Aktivitas Mitra / BEM USD Sayangkan Aksi Intoleransi di Indonesia

BEM USD Sayangkan Aksi Intoleransi di Indonesia

Edupost.id – Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sanata Dharma (USD) Ganang Darmanto menyayangkan adanya aksi intoleransi yang terjadi di beberapa tempat di Indonesia belakangan ini. Hal ini dikatakannya di acara Panggung Terbuka dan Doa Lintas Iman di Depan Auditorium Kampus USD Gejayan, Selasa (13/2) malam.

Aksi intolerasi yang dimaksudnya mulai dari perusakan masjid, pelarangan ibadah pada umat Buddha hingga penyerangan gereja Santa Lidwina, Gamping, Sleman. Kenyataan itu sangat disayangkan karena negara Indonesia besar karena adanya keberagaman dan persatuan.

“Ini menjadi PR untuk kita sekalian, saat ini kita perlu sekali untuk menyatukan langkah kita bergandengan tangan satu dengan yang lain untuk melawan segala bentuk ajaran yang ingin memecah belah kita atau yang ingin merusak persatuan antar umat beragama,” ungkapnya.

BEM USD menggelar Panggung Terbuka dan Doa Lintas Iman ini untuk mengajak para mahasiswa saling bersatu dan bergandengan menyikapi berbagai bentuk intoleransi seperti peristiwa penyerangan Gereja Santa Lidwina, Gamping, Sleman. Ganang berharap, para mahasiswa tak memandang suku, ras, agama dan golongan apapun dalam memperkuat toleransi.

“Kami mendorong masyarakat untuk membangun dialog antar umat beragam dalam rangka membangun Indonesia sebagai rumah bersama bagi masyarakat yang damai,” ungkapnya.

Acara ini dihadiri oleh internal mahasiswa USD seperti komunitas mahasiswa dan BEM. Selain itu, komunitas dari luar USD seperti komunitas Gusdurian juga tampak hadir. Rangkaian kegiatan ini diawali dengan paduan suara mahasiswa, pembacaan puisi kemudian salat Maghrib berjamaah bagi yang muslim.

Acara kemudian dilanjutkan dengan orasi perwakilan BEM USD, kemudian refleksi dari perwakilan Komunitas Gusdurian. Refleksi juga disampaikan oleh Romo Bambang Iriawan mewakili USD. Acara ditutup dengan doa lintas agama yang diwakili oleh seluruh agama sembari menyalakan lilin.

Seperti diketahui, aksi penyerangan Gereja St Lidwina Bedog, Sleman pada Minggu (11/2) lalu telah mencoreng kesejukkan toleransi di Indonesia, khususnya DIY. Penyerangan membabi buta seorang pria bersenjata pedang telah melukai satu orang pastur, tiga orang jemaat dan satu polisi.

Tiga korban, yakni Budijono, Romo Prier dan Yohanes Triyanto hingga saat ini masih dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih. Sementara satu korban lainnya, Martinus Parmadi Subiantara sudah diperbolehkan pulang tak lama seusai kejadian. (Andi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *