Kamis , 19 Januari 2017
Home / Aktivitas Mitra / GIF Bantu Fasilitasi Pendidikan Bagi Anak Kurang Mampu

GIF Bantu Fasilitasi Pendidikan Bagi Anak Kurang Mampu

Edupost.ID, Depok – Pendidikan merupakan modal atau nilai tambah bagi masyarakat dalam menunjang kemandirian dan kemajuan sebuah negara. Indonesia sendiri masih memiliki kendala dalam mengembangkan pendidikan, khususnya bagi mereka yang kurang mampu. Dengan kehadiran berbagai komunitas maupun gerakan sosial lainnya dirasa cukup membantu dalam mengembangkan pendidikan, terutama untuk anak-anak yang kurang mampu. Seperti yang dilakukan oleh Green Indonesia Foundation (GIF) pada anak marjinal.

Mintarsih yang akrab dipanggil Echy, menceritakan sebelum menjadi yayasan, GIF dahulunya adalah sebuah komunitas yang dibentuk pada tahun 2012. “Pendirinya ada sekitar 4 orang, dari kalangan mahasiswa dan pekerja. Pada saat itu kegiatannya berupa mengajar, yaitu hanya pada hari sabtu dan ahad,” kata Echy sebagai Koordinator Pendidikan GIF pada (03/12) di Depok.

Alasan mengapa dinamakan GIF karena para pengurus dan volunteer terdiri dari anak muda yang ingin menjadikan masyarakat berkualitas dan menjadi solusi bagi Indonesia ke depan, dibidang sosial maupun pendidikan. Lambang GIF memiliki 3 daun, memiliki arti yaitu lingkungan, sosial, dan pendidikan.

Mata pelajaran yang diajarkan berupa pengetahuan umum dan calistung. Untuk pelajaran agama, baru diadakan pada tahun 2013. Jam mengajar dimulai dari jam 10.00 sampai 13.00 WIB. Tetapi sejak menjadi yayasan, kegiatan belajar mengajar menjadi setiap hari Rabu, Jumat, Sabtu, dan Ahad. Pada hari Rabu dan jumat membahas tentang pelajaran agama, sedangakan pada Sabtu, dan Ahad berupa pelajaran umum. GIF juga mengadakan ekstrakurikuler yaitu tari.

Sejauh ini, total pengurus inti ada sekitar 25 orang, sedangkan volunteer pengajar yang tetap ada sekitar 35 orang di seluruh lokasi tersebut. Fokus kegiatan tertuju pada anak-anak pemulung. Fasilitas yang didapat hingga saat ini berasal dari donasi personal atau di luar pengurus. Juga ada program kakak asuh yang rata-rata diisi oleh mahasiswa. Ada paket red: dari Rp. 100.000-Rp. 300.000. Paket yellow: dari Rp. 400.000-Rp. 700.000. Paket green: Rp. 800.000-Rp. 1.000.000.

“Lokasinya ada di daerah Pejaten, Ragunan, Kebagusan, dan Jatipadang. Tempat belajar berupa loteng yang telah dimodifikasi,” ujarnya menjelaskan. Reaksi orang tua awalnya tidak mendukung, hingga pada akhirnya menerima kehadiran GIF.

Adapun kendala yang dihadapi, yaitu pertama pada sistem pengajaran termasuk kurikulum yang masih akan terus dikembangkan. Kedua, sumber daya manusia, karena masih relawan, untuk menyatukan komitmen pengurus masih agak sulit.

Ia melanjutkan, kendala finansial pun ada, namun sekarang ada program yang namanya tutubies unique, yang terinspirasi dari ayat dalam kitab suci Al Qur’an. Harapannya, usahanya ini menciptakan 700 kali lipat kebaikan. Usaha tersebut berupa membuat barang-barang buatan sendiri yaitu tempat pensil dari koran, merchandise berupa kantong serba guna dari belacu, mug dari keramik, pin, dan lain sebagainya.

Tutubies sendiri memiliki tiga bagian, marketing, keuangan, dan produksi. “Tutubies lebih fokus pada ibu-ibu di lokasi pemulung. Selama ini ibu-ibu membuat handmade dan keuntungannya untuk pengembangan GIF dan keuntungan mereka juga,” jelasnya.

Dengan kehadiran komunitas atau organisasi di bidang pendidikan, cukup memberikan manfaat yang besar. Yaitu dapat menjembatani siapa saja yang mau berbagi, sharing ilmu dan bentuk kegiatan lainnya. Selain itu, ini bisa menjadi kegiatan positif bagi anak muda yang bingung mau berbuat apa demi mencerdasan anak bangsa demi kemajuan negara. (Reza)

Check Also

Mahasiswa UGM Ikuti Asian Waterbirs Cencus

Lestarikan Burung, Enam Mahasiswa UGM Ikuti AWC

Edupost.id – Enam mahasiswa pecinta alam Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Mapala Silvagama, turut …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *