Selasa , 23 Mei 2017
Home / Aktivitas Mitra / Indonesia Mengajar, Solusi Masalah Ketersediaan Guru

Indonesia Mengajar, Solusi Masalah Ketersediaan Guru

Edupost.ID, Jakarta – Salah satu permasalahan pendidikan di negara kita ialah belum meratanya ketersediaan guru di setiap sekolah. Hal ini yang melatarbelakangi didirikannya gerakan Indonesia Mengajar (IM) yaitu ingin memberi solusi atas masalah ketersediaan tenaga pengajar. IM merupakan gerakan sosial pendidikan yang mengirimkan pengajar muda (PM) ke wilayah-wilayah yang mengalami kekurangan guru.

“IM merupakan gerakan untuk memajukan pendidikan di Indonesia dan ambil bagian untuk menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia,” kata Shaskia selaku Public Engagement IM dan alumni IM angkatan 8. Ia menambahkan, visi dan misi IM diantaranya yaitu mengajak semua pihak untuk memajukan pendidikan di Indonesia, menciptakan dampak yang berkelanjutan di desa, membangun jejaring pemimpin masa depan yang memiliki pemahaman akar rumput, dan membangun gerakan sosial di Indonesia.

Ia menuturkan, hingga saat ini sudah ratusan alumni yang berkontribusi di IM. “Dari terbentuknya IM, sampai saat ini sudah ada 618 alumni dan sekarang memasuki angkatan 11 yang sedang mengikuti pelatihan selama 7 pekan di Jatiluhur. Dari 8.249 calon peserta, dipilih 50 peserta yang ikut di angkatan 11”. Lanjutnya, pelatihan dilakukan karena tidak semua relawan itu guru dan memiliki gelar sarjana pendidikan. Pelatihan berupa pedagogik dan bidang kurikulum. Selain itu, juga ada pembekalan mengenai bagaimana menjadi fasilitator yang baik. Sekarang, memasuki pendaftaran baru angkatan 12. Pendaftaran dibuka hingga 15 Desember 2015 melalui online dan kuota hanya 75 orang.

Ia menambahkan, selama mengajar, relawan hanya diperbolehkan memegang handphone sepekan sekali “Relawan di sana tidak boleh memegang handphone, agar fokus dan bisa melatih masyarakat di sana. Juga karena sinyal di sana yang cukup sulit”. Ada 17 kabupaten yang menjadi sasaran IM dalam mengajar. Diantaranya ada 5 kabupaten yang akan pensiun dari program ini. Itu dikarenakan daerah yang pernah disinggahi IM sudah merasa mandiri dan tidak perlu lagi mendapat bantuan.

“Ada di Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara, Tulang Bawang Barat provinsi Lampung, Bangkalis provinsi Riau, Majene provinsi Sulawesi Barat, dan Tana Paser provinsi Kalimantan Timur,” katanya. Untuk mengetahu kemandirian daerah tersebut melalui proses dan salah satunya dikumpulkan para penggerak dari daerah masing-masing dan memberitahu kondisinya. Program pensiun suatu daerah dilakukan setiap lima tahun sekali. Namun, IM akan membuka 3 kabupaten baru yang akan menjadi tempat untuk program mengajar. Diantaranya ada di Pegunungan Bintang di Papua, Natuna di Kepulauan Riau, dan Nunukan di Kalimantan Utara. Hal tersebut atas inisiatif dari dinas pendidikan setempat yang menginginkan pengajar muda.  (Reza)

Check Also

UGM Buka Ajang Bisnis Pemuda ASEAN, AYSPP 2017

UGM Buka AYSPP, Ajang Bisnis Pemuda ASEAN

Edupost.id – Kompetisi bertaraf internasional, ASEAN Youth Socialprenuership Program (AYSPP) yang digelar Universitas Gadjah Mada (UGM) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *