Sabtu , 16 Desember 2017
Home / Aktivitas Mitra / Kembalinya Leadership Survival Camp #3, Kemah Karakter Pelajar Indonesia

Kembalinya Leadership Survival Camp #3, Kemah Karakter Pelajar Indonesia

Edupost.id, Jakarta – Perkembangan pelajar Indonesia kini semakin banyak dipengaruhi berbagai budaya negatif yang bisa melemahkan karakter mereka. Untuk menangkal pengaruh negatif tersebut, dibutuhkan upaya pembinaan dan pengembangan diri para pemuda. Atas dasar itulah, Student Care menggelar kegiatan Leadership Survival Camp (LSC) Batch 3 di d’Camp Lembang Bandung, pada 20 – 22 Maret 2015.

Adrian Damora selaku Sekjen Student Care mengungkapkan, LSC merupakan bentuk kepedulian Student Care sebagai pemerhati pelajar yang ingin menghadirkan pelajar bermental kuat, berdaya juang, dan mampu memecahkan problem yang dihadapi.

“Banyak pelajar yang saat ini cenderung apatis dengan lingkungannya. Karena itu, kami berpikir untuk menghadirkan sosok pelajar yang menjadi teladan di lingkungannya dengan karakter yang kuat. Konsep ‘survival’ dihadirkan sebagai metode dalam menemukan hikmah dari perjalanan dan tahapan-tahapan kegiatan yang mereka lalui,” jelasnya saat diwawancara Edupost.

Acara ini diperuntukkan bagi pelajar, baik SMP maupun SMA se-Indonesia. “Waktu LSC 2 kemarin, ada peserta yg berasal dari Waingapu, NTT dan Balikpapan,” ucapnya.

Untuk LSC ke-3 yang akan diadakan bulan ini, targetnya adalah para pimpinan OSIS dan ekstrakurikuler di sekolah.

“Setiap batch-nya kami biasanya membatasi jumlah pendaftar dan melakukan proses seleksi untuk mereka yang sudah terdaftar. Artinya, ada tahapan awal yang mereka lewati untuk menguji seberapa kuat tekad mereka mengikuti kegiatan ini,” paparnya.

Adrian menyampaikan, bentuk acara LSC ini berupa outbond dan games. “Konten kegiatannya full outbond, tracking, games, tantangan yang berkaitan dengan bagaimana survive dalam kondisi yg minim,” jelasnya.

Terkait kuota peserta, menurut Adrian, sebenarnya tidak ada. “Namun biasanya yang lolos proses seleksi tahap awal dan hadir pada saat hari H kurang lebih 100 orang,” ujarnya.

Adrian berharap, kegiatan ini bisa membangun sikap mental pelajar Indonesia yang positif. “Mencetak pelajar yang tangguh, mandiri serta peduli terhadap lingkungan sekitar, yang berlandaskan keimanan dan ketakwaan pada Sang Pencipta,” terangnya.

Adapun, Student Care sendiri merupakan divisi semi-otonom di bawah SPIN (Sentra Pelajar Indonesia), lembaga yang berdedikasi dalam pembinaan dan pemberdayan pelajar Indonesia. (FG/EI)

Check Also

KPAI Temukan Buku IPS Soal Yerussalem selain Penerbit Yudistira

Edupost.id – Buku IPS yang memuat konten bertuliskan “Ibukota Israel adalah Yerussalem” ternyata tidak hanya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *