Rabu , 18 Oktober 2017
Home / Aktivitas Mitra / Komunitas Jendela, Bantu Tumbuhkan Minat Baca Pada Anak

Komunitas Jendela, Bantu Tumbuhkan Minat Baca Pada Anak

Edupost.ID, Jakarta – Buku adalah jendela dunia. Begitulah ungkapan yang sering didengar oleh masyarakat mengenai buku. Inilah yang menjadi motivasi dibentuknya komunitas Jendela, yang ingin menumbuhkan minat baca pada anak.

“Mengapa dinamakan Komunitas Jendela karena buku adalah jendela dunia. Disetiap markas ada perpustakannya,” ujar salah satu pengurus Komunitas Jendela, Rizca Fitria pada (06/12) di Jakarta. Ia bergabung dengan komunitas tersebut agar dapat berkarya lebih banyak, selain itu juga dapat melakukan kegiatan positif dan mendapat semangat baru.

Adapun visi dari komunitas ini yaitu menjadi komunitas berjiwa muda yang fokus berkarya dan berkontribusi pada pendidikan anak. Sedangkan misinya, membentuk kemandirian belajar anak melalui kebiasaan membaca buku. Memusatkan kegiatan pembelajaran pendidikan alternatif di perpustakaan. Memberikan pengetahuan gratis pada anak-anak Indonesia melalui kegiatan non formal yang mengasah kreatifitas dan kemampuan motorik anak.

Komunitas ini dibentuk pada tahun 12 Maret 2011. Proses terbentuknya, bermula saat mahasiswa-mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada, mengadakan perkumpulan saat terjadi bencana erupsi Gunung Merapi.

“Mereka membuat shelter di pengungsian Merapi.  Di shelter tersebut mereka mengajar dan membuat kegiatan lain untuk menghilangkan trauma khususnya untuk anak-anak,” tuturnya.

Setelah bencana selesai, para mahasiswa yang telah lulus, tetap aktif di daerah masing-masing. Maka, dibuatlah komunitas tersebut dengan inisiatif mereka sendiri, dengan mengedepankan anak-anak yang kurang mampu atau marjinal.

Komunitas Jendela berkaktifitas di 5 kota, diantaranta di Jogja, Malang, Lampung, Jakarta, dan Bandung. “Di Jakarta, ada di daerah Manggarai, Sungai Bambu, dan Serpong. Ketiga tempat tersebut ditemukan dengan cara survei dari para relawan,” katanya. Di Jakarta baru berdiri sekitar 3 tahun yang lalu.

Kegiatan yang dilakukan diantaranya berupa belajar mengajar mata pelajaran umum, kerajinan tangan, permainan tradisional, rohani dan cooking day. Total pengurus sekitat 50 orang. Tujuan didirikannya komunitas ini adalah untuk menumbuhkan minat baca anak.

“Ada program yang namanya 1 bulan 1 buku, di setiap bulan ada setoran untuk menceritakan kembali yang sudah dibaca si anak,” ulasnya.

Beberapa program unik lainnya berupa camping yang diadakan setiap hari libur sekolah. “Setiap anak libur sekolah, kami biasanya mengadakan camping. Kebetulan ada taman dekat markas Komunitas Jendela,” jelasnya. Selain itu, ada juga program nonton bareng (nobar) film-film edukasi dari Indonesia.

Selain itu, setiap tahunnya juga diadakan kegiatan malam keakraban (makrab) nasional. Belum lama ini, ada peluncuran program baru, yaitu belajar komputer. Ada pula kelas relawan, untuk saling sharing bagaimana menghadapi anak-anak, dari relawan yang telah berpengalaman kepada relawan yang masih baru.

Jam belajar hanya ada disetiap hari Sabtu dan Ahad pukul 13.30-16.00 WIB. Untuk hari biasa hanya diisi dengan rohani atau mengaji. “Adanya komunitas ini cukup bermanfaat dan membantu menumbuhkan minat baca pada anak, menambah kegiatan positif, dan bisa merubah sikap anak menjadi lebih baik,” katanya. Manfaat bagi para relawan, bisa membuat koneksi baru dan berkumpul sesama relawan.

Sejauh ini, kendala yang pernah dialami Komunitas Jendela, salah satunya berasal dari para relawan. “Motivasi relawan kadang naik dan juga turun. Cukup sulit mengumpulkan para relawan di setiap pekannya. Juga dari anak-anaknya yang sulit diatur,” ungkapnya. Anak-anak yang dibina oleh Jendela ada yang dari SD hingga SMA, dengan beberapa anak yang belum sekolah. Tidak hanya anak-anak marjinal, namun ada juga yang berasal dari keluarga mampu ikut belajar. Selain itu, motivasi anak-anak untuk belajar yang juga tidak stabil. Begitu juga transportasi untuk para relawan juga menjadi kendala.

Ia berharap, Komunitas Jendela bisa menambah wilayah yang mudah dijangkau. Untuk pemerintah, bisa membuat sebuah kurikulum khusus untuk pendidikan anak jalanan dan membantu komunitas serta menaungi komunitas dengan memberi pembinaan yang baik.

“Saya berharap anak-anak tersebut bisa membuat hal positif dan optimis pada masa depannya,” ujarnya. Rasa khawatir tetap ada karena setelah selesai belajar, mereka akan pulang lagi ke orang tuanya dan tidak tahu apakah orang tua si anak mendidik anak dengan baik atau tidak. (Reza)

Check Also

Cara Mengajarkan Anak Membaca Jam

Cara Mengajarkan Anak Membaca Jam

Edupost.id – Kemampuan membaca jam atau mengerti tentang konsep waktu merupakan salah satu hal penting …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *