Rabu , 18 Oktober 2017
Home / Aktivitas Mitra / Terminal Hujan, Kualitas Anak Lebih Penting dari Kuantitas

Terminal Hujan, Kualitas Anak Lebih Penting dari Kuantitas

Edupost.ID, Bogor – Terminal Hujan adalah sebuah komunitas independen yang fokus terhadap pendidikan anak-anak dan pemberdayaan ekonomi orangtua di wilayah perkampungan di belakang Terminal Baranangsiang Kota Bogor. Misi dari komunitas ini sendiri yaitu lebih mementingkan kualitas anak didiknya daripada kuantitas.

Haqi Fadillah, salah satu relawan Komunitas Terminal Hujan menerangkan kepada Edupost.ID, jumlah anak tidak terlalu penting, yang terpenting adalah anak-anak yang memang memiliki kemauan untuk belajar. Memaksakan anak-anak untuk ikut belajar, ternyata bukanlah hal yang bagus. Sebelumnya para relawan memaksakan anak didiknya untuk ikut belajar, namun mereka tidak mau jika dipaksa.

“Dulukan banyak anak laki-laki yang gede-gede sering belajar, tapi karena ada kakak-kakak yang udah ga datang lagi, jadi mereka ga datang. Jadi sistemnya bukan paksaan tetapi siapa yang mau belajar. Sebelumnya jumlah anaknya memang 80-100 orang, tetapi sekarang berkurang jadi 60 orang. Jenjangnya dari pra sekolah sampai SMP,” tambah Haqi.

Komunitas yang didirikan sejak tahun 2011 ini awalnya melihat bahwa banyak anak-anak yang turun ke jalan, tawuran dan lain-lain. “Karena banyak yang seperti itu, akhirnya kita mencari tau, apasih masalah yang ada di dalam diri mereka?” ujar Haqi.

Menurutnya, ternyata masih banyak yang kurang dalam proses belajar. Ada yang masih terbata-bata dalam membaca dan lain-lain. Akhirnya komunitas ini mencoba untuk mengajak mereka untuk belajar bersama. Kegiatan belajar rutin dilakukan dua kali dalam seminggu yaitu sabtu dan minggu dari jam 9.00 WIB – 12.00 WIB.

Banyak kegiatan yang dilakukan oleh komunitas ini bersama anak didik mereka, seperti yang dijelaskan oleh Haqi, komunitas ini memiliki ekskul, mengadakan penyuluhan kesehatan, mengikuti kegiatan di luar seperti menghadiri undangan dari komunitas dan media, mengadakan upacara bendera dan mengadakan acara untuk memperingati tanggal 17 Agustus. Dalam seluruh kegiatannya, banyak pihak yang ikut serta membantu komunitas ini yaitu para relawan dari kalangan siswa, mahasiswa, ibu-ibu PKK, pengusaha dan lain-lain.

Hal serupa diterangkan oleh Anggun, salah satu founder dari Komunitas Terminal Hujan. Awalnya ada tiga orang yang memiliki ide untuk membuat komunitas ini yaitu Anggun, Sela dan Mario. Ide awalnya yaitu ketika Anggun memiliki keinginan untuk mengajar di Bogor setelah ia menyelesaikan masa studinya di universitas. Kemudia ia bertemu dengan ibu Awan, seorang dokter gigi dan kepala PKK Kota Bogor. Ternyata, program PKK di daerah Bogor yang berlokasi di baranangsiang itu karena ingin memberdayakan para ibu-ibu di daerah tersebut.

Akhirnya ia bersama kedua temannya dan dibantu oleh ibu Awan untuk masuk ke daerah tersebut. Tujuannya agar angka putus sekolah di daerah tersebut berkurang. Selain itu agar para anak didiknya bisa belajar setinggi-tingginya agar mampu meningkatkan taraf hidup keluarga mereka masing-masing dengan kerjakeras yang ditanamkan oleh para relawan sejak dini. (Nisa)

Check Also

Cara Mengajarkan Anak Membaca Jam

Cara Mengajarkan Anak Membaca Jam

Edupost.id – Kemampuan membaca jam atau mengerti tentang konsep waktu merupakan salah satu hal penting …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *