Senin , 27 Maret 2017
Home / Aktivitas Mitra / Wabe Project Ajak Warga Ceger Menabung Sampah untuk Pendidikan

Wabe Project Ajak Warga Ceger Menabung Sampah untuk Pendidikan

Edupost.ID, Bogor – Waste Bank For Education (Wabe) Project merupakan sebuah komunitas yang memfokuskan kegiatan mereka untuk mendaur ulang sampah. Mereka mengajak para warga Kampung Ceger, Bogor untuk menabung guna menyediakan perlengkapan sekolah anak-anak di sana.

“Awalnya saya ngajar di rumah belajar Sekolah Bersama Yuk tahun 2011, kemudian saya berpikir bahwa memberikan les gratis kepada anak-anak itu tidak cukup,” ujar Tami, salah satu penggagas Wabe Project kepada Edupost.ID pada, (6/12).

Menurutnya, banyak anak-anak yang putus sekolah karena biaya pendidikan itu tidak gratis. Sejumlah uang harus dikeluarkan oleh para orangtua untuk membeli seragam, buku dan lain-lain. Bahkan buku dari pemerintah yang seharusnya gratis, disewakan oleh sejumlah sekolah. Intinya memang banyak pungutan liar dan tidak benar-benar gratis. Melihat masalah tersebut, maka ia mulai berpikir untuk membantu para warga dengan cara mengolah sampah.

“Kebetulan aku ikut forum di Jakarta dan ketum dokter Gamal, penggagas asuransi sampah untuk kesehatan. Kemudian dokter Gamal menyarankan untuk melakukan sistem penukaran uang dengan sampah jadi sistemnya seperti bank sampah. Jadi seberapa besar mereka nabung, sebesar itu pula yang mereka dapatkan,” tambah Tami.

Tami juga menerangkan bahwa awalnya mereka fokus didaur ulang agar sampahnya tidak terlalu menumpuk. Setelah mendapatkan tempat di hati pelanggan dengan berjualan produk daur ulang, barulah mereka fokus ke bank sampah. Sampah-sampah yang dikumpulkan sebagian ada yang diberikan ke pengepul, ada yang sebagian didaur ulang menjadi produk-produk yang menghasilkan uang seperti dompet, gantungan kunci, tempat peniti dan lain-lain.

“Kebetulan saya punya kenalan yang produksi seprei, jadi kain perca ini gratis dari dia. Jadikan daripada dibuang, sama dia dikumpulin. Kalau udah banyak, dia ngabarin saya. Jadi kalau saya pulang kerja, saya mampir dulu buat ngambil kainnya,” tambah Tami.

Jumlah anggota dari Wabe Project yaitu 30 orang yang berasal dari berbagai macam kalangan. Tami mengatakan, anggotanya berasal dari kalangan siswa, mahasiswa sampai pekerja kantoran. Setiap minggunya mereka bergiliran ke sekretariat. Untuk relawannya sendiri Wabe Project mencari yang memiliki berbagai macam keahlian agar bisa saling berbagi ilmu. (Nisa)

Check Also

ujian nasional

UN Tetap Penentu Kelulusan Peserta Pendidikan Kesetaraan

Edupost.id – Ujian Nasional yang akan dilaksanakan tahun ini tetap menjadi penentu kelulusan bagi peserta …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *