Rabu , 18 Oktober 2017
Home / Belajar / Pemerhati : Anak TK Boleh Diajarkan Membaca
KB-TK-IT-Nurul-Fikri-Praktik-Jualan-2
Siswa KB-TK IT Nurul Fikri praktik berjualan

Pemerhati : Anak TK Boleh Diajarkan Membaca

Edupost.id – Pro kontra tentang waktu terbaik mengajarkan anak belajar membaca terus bermunculan. Sebagian kalangan menilai, seorang anak yang masih berusia Taman Kanak-kanak tidak boleh diajarkan membaca. Namun, sebagian kalangan lain menilai, justru pada masa Tamak Kanak-kanak adalah usia paling tepat mengajarkan anak membaca.

Menanggapi hal ini, ketua Sekolah Tinggi Pendidikan Islam (STPI) Bina Insan Mulia Yogyakarta, Umi Faizah, menegaskan seorang anak boleh diajarkan membaca sejak usia dini asalkan tetap diperhatikan tumbuh kembangnya. “Anak TK boleh diajar membaca asalkan sesuai perkembangan anak,” kata Umi saat menjadi pembicara seminar pendidikan di Gedung Olahraga Universitas Negeri Yogyakarta, Minggu (3/9).

Menurutnya, orang tua dapat mengajarkan anak membaca pada usia berapapun. Namun, yang paling peenting, orang tua harus mengajarkan membaca dengan cara yang menyenangkan, sesuai dengan perkembangan mental anak yang masih menyukai dunia permainan.

Anak-anak, menurut Umi, diutamakan belaja membaca dengan orang tuanya karena para orang tua lebih memahami kondisi perkembangan anaknya. Jika orang tua tidak mampu mengajar dengan baik, orang terdekat anaklah yang dapat menggantikan tugas orangtua mengajarkan membaca.

Guru profesional dapat mengajarkan anak membaca pada usia dini jika orangntua memang menghendaki. Namun, perlu ada komunikasi yang baik antara orang tua dan guru terkait perkembangan anak.

Umi menambahkan, belajar membaca pada anak diawali dengan mendengar, dan melihat. Sehingga sangat penting bagi oirang tua untuk membacakan buku di depan anak agar anak semakinnsering mendengar. Anak akan lebih mudah membaca kata-kata yang akrab di telinganya.

Pendapat senada diungkapkan Rohmad Suphianto, pendiri lembaga pendidikan les baca Anak Hebat (Ahe). Menurutnya, seorang poengajar yang baik harus memahami perkembangan tumbuh kembang anak. Mengajarkan membaca harus dengan cara permainan yang menyenangkan.

Sistem yang tidak tepat dalam pengajaran membaca pada usia dini adalah dengan sistem klasikal. Pada usia dini, menurut Rohmad, anak belum bisa menerima perbedaan yang ada. Tiap anak memiliki kemampuan yang berbeda dalam hal daya tangkap untuk belajar. Dan ini tidak boleh diseragamkan dalam sistem klasikal.

“Ada anak yang memiliki kemampuan rendah dan kemampuan lebih tinggi dalam belajar. Jika pengajarannya diseragamkan, anak yang memiliki kemampuan lebih rendah justru akan berdampak buruk. Anak akan trauma dengan belajar,” terang Rohmad.

Check Also

siswa SD

PPDB Sleman, Masuk SD Tak Boleh Tes Calistung

Edupost.id – Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Kabupaten Sleman untuk jenjang Sekolah Dasar tahun ajaran …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *