Selasa , 24 Juli 2018
Home / Berita Pendidikan / Aksi Klitih Resahkan Jogja, Semua Pihak Harus Perhatian
Aksi Klitih Resesahkan Jogja, Semua Pihak Harus Perhatian
Aksi Klitih Resesahkan Jogja, Semua Pihak Harus Perhatian

Aksi Klitih Resahkan Jogja, Semua Pihak Harus Perhatian

Edupost.ID – Beberapa organisasi dan komunitas di DIY menggelar aksi damai menolak klithih di Yogyakarta. Meski diguyur hujan, aksi yang berlangsung di titik nol pada Sabtu (17/12) ini tetap berjalan lancar.

Fenomena kekerasan di jalanan (klithih) di Yogyakarta tidak hanya memunculkan ketakutan, tapi juga telah mengorbankan nyawa. Umumnya, baik korban maupun pelaku masih berstatus sebagai pelajar di DIY. Tewasnya seorang siswa SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta makin membuat geram warga.

Miftah Bacharia Saadah, koordinator Masyarakat Peduli Pendidikan DIY mengatakan, fenomena ini harus menjadi perhatian bersama, khususnya sekolah, keluarga, dan maayarakat. Ketiga komponen ini harus bertindak cepat mengatasi persoalan ini.

“Perlu peran serta semua pihak termasuk guru, dan orang tua untuk memberikan kegiatan positif kepada siswa di sekolah sebagai salah satu upaya menekan angka klithih ini,” ujar Miftah di Yogyakarta Sabtu (17/12).

Sebelumnya, akibat aksi klithih ini, Adnan Wirawan, siswa kelas X SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (MUHI) meninggal akibat bacokan pedang oleh sekelompok orang bercadar di Jalan Imogiri-Panggang Dusun Lanteng Selopamioro Imogiri Bantul, Senin (12/12) petang.

Korban menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta setelah sebelumnya menjalani perawatan di RS JIH pada Selasa (13/12) malam. Korban mengalami luka di pinggang dan perut akibat tebasan senjata tajam.

Miftah juga mendorong pemerintah dan aparat kepolisian untuk bertindak tegas terhadap para pelaku klithih. “Kita ingin mendorong aparat untuk lebih tegas terhadap pelaku, agar Jogja menjadi kondusif kembali,” imbuh Miftah.

Aksi damai ini juga meminta aparat kepolisian untuk melarang pelajar SMP/SMA membawa sepeda motor sendiri. Selain itu, pemerintah daerah juga harus menyediakan ruang publik sebagai ruang ekspresi para pelajar di setiap wilayah di seluruh DIY.

Aksi damai menolak klithih diikuti oleh gabungan beberapa organisasi dan komunitas. Di antaranya Masyarakat Peduli Pendidikan, Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta (DKKY), Perempuan Adiluhung (Padi), Forum Anak DIY, Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak (Satgas PPA) DIY, Forum Komunikasi Komite SMP Yogyakarta, Forum Komite SD Yogyakarta, Masyarakat Pelaku Wisata DIY, Pusat Informasi Napza Kampung (PINK), Napza Crisis Center (NCC), Gerakan Bela Negara (GBN), dan Masyarakat Adat Mataraman.(Andi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

=[Tutup Klik 2x]=