Rabu , 19 September 2018
Home / Berita Pendidikan / Aksi Radikalisme, FSGI Ingatkan Sekolah Tiga Hal Ini
siswa-SMA
Ilustrasi. Siswa SMA

Aksi Radikalisme, FSGI Ingatkan Sekolah Tiga Hal Ini

Edupost.id – Belakangan ini terjadi aksi terorisme yang melibatkan anak-anak. Terkait hal ini, Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) memiliki catatan khusus untuk menekan upaya radikalisasi di dunia pendidikan khususnya di sekolah.

FSGI menilai, hal pertama yang perlu disadari bahwa ideologi radikalisme yang berujung dengan aksi kekerasan berawal dari cara pandang yang tidak menghargai perbedaan. Bibit-bibit radikalisme sudah tumbuh sejak dini di sekolah melalui pendidikan.

“Pembelajarannya tidak didesain menghargai perbedaan. Sehingga para siswa dan guru terjebak pada intoleransi pasif, yaitu perasaan dan sikap tidak menghargai akan perbedaan (suku, agama, ras, kelas sosial, pandangan keagamaan dan pandangan politik), walaupun belum berujung tindakan kekerasan. Model intoleransi pasif inilah yang mulai muncul di dunia pendidikan kita,” kata Sekjen FSGI, Heru Purnomo.

Kedua, selama ini praktik pembelajaran di kelas masih berpusat pada guru. Guru menerangkan pelajaran, siswa mendengar. Praktek seperti ini kerap menjadi sarana menyebarkan bibit radikalisme di kelas.

“Penyemaian radikalisme terjadi ketika guru terbiasa mendoktrin pelajaran, apalagi dalam ilmu sosial dan agama. Tidak terbangunnya suasana pembelajaran dialogis, mendengarkan pendapat argumentasi siswa,” ujar Wakil Sekjen FSGI, Satriwan Salim yang juga guru di SMA Labschool Jakarta.

Ketiga, FSGI menemukan bahkan ada guru yang tiap hari mem-posting di akun FB-nya berita-berita hoaks dari sumber tak kredibel. Aktif me-reshare tautan dan video bermuatan kebencian SARA. Dan konten-konten yang memojokkan salah satu kelompok politik di negara.

Ditambahkan, ketika mengajar di kelas, masih ada guru yang membawa pandangan politik pribadinya ke dalam kelas. Ini akan membuat siswa terpengaruh praktik intoleransi.

Masuknya bibit radikalisme ke sekolah, menurut Heru, teradi karena sekolah cenderung tidak memperhatikan secara khusus dan ketat perihal kegiatan kesiswaan, apalagi terkait keagamaan. Tak adanya screening oleh guru atau kepala sekolah terhadap pemateri keagamaan yang diambil dari luar sekolah juga makin memengaruhi bibit radikalisme di sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

=[Tutup Klik 2x]=