Rabu , 23 Mei 2018
Home / Berita Pendidikan / Anak Tukang Bengkel Ini Raih Nilai Terbaik Ujian Nasional
Alikhatul Khoiroh raih UN terbaik di Jatim
Alikhatul Khoiroh, anak tukang bengkel peraih nilai UN terbaik di Jatim

Anak Tukang Bengkel Ini Raih Nilai Terbaik Ujian Nasional

Edupost.id – Alikhatul Khoiroh, siswa jurusan bahasa SMA Negeri 1 Lawang, Kabupaten Malang tak menyangka dirinya berhasil meraih nilai tertinggi Ujian Nasional (UN) jenjang SMA tingkat Provinsi Jawa Timur. Anak pertama dari Ahmad Suud, seorang tukang bengkel ini meraih nilai 366, dengan nilai Matematika 100.

“Saya tidak menyangka (masuk nomor satu se Jatim),” ungkap Alikha, seperti dilansir SP. Awalnya ia hanya menargetkan masuk 10 besar di kelasnya. Namun dari tabel nilai 10 terbaik UN SMA se-Jatim, ia justru menempati urutan pertama. Ia mengaku terkejut karena tidak menyangka menempati urutan pertama se Jatim.

Kepala Sekolah SMA N 1 Lawang, Supaat, mengatakan ini pertama kalinya siwa SMAN 1 Lawang mencapai prestasi ini. Biasanya, prestasi itu diraih siswa-siswi SMAN 1 Lawang hanya pada tingkatan kabupaten.

“Ini kali pertama mencapai tingkatan provinsi,” ucapnya. Atas pencapaian itu, Supaat berencana  memberikan penghargaan kepada Alikha berupa uang pembinaan dan buku bacaan.

Alikha dikenal sebagai siswa cerdas sejak SD dan SMP dan di SMA biasa masuk peringkat 10 besar sekolah. Ia juga pernah menempati peringkat keempat dalam Lomba Bahasa Jerman yang digelar Universitas Negeri Malang pada tahun 2016.

“Saya berharap suatu waktu nanti bisa mendapatkan beasiswa belajar Bahasa Jerman di Jerman. Seperti Pak BJ Habibie,” ujarnya.

Alikha mengaku bercita-cita untuk masuk perguruan tinggi negeri Jurusan Matematika atau Bahasa Jerman, namun ia gagal masuk lewat jalur undangan. Ia yang mengaku bisa meraih prestasi karena dorongan guru dan teman-teman sekelasnya. Kini malah diminta ayahnya banting setir agar masuk ke Sekolah Tinggi Administrasi Negara (STAN) agar begitu lulus ia bisa langsung bekerja.

Penghasilan ayahnya yang pas-pasan, ditambah ia memiliki adik yang masih duduk di bangku SD. Sedangkan ibunya hanya menjadi ibu rumah tangga. Karenanya ia kemudian membujuk putrinya masuk STAN di Malang. “Namun entah ya, katanya tinggi badan minimum yang mungkin kurang,” ujar Ahmad Suud sambil tersenyum. Ia memasrahkan kepada pilihan putrinya untuk meniti jenjang karier hidupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

=[Tutup Klik 2x]=