Rabu , 23 Mei 2018
Home / Berita Pendidikan / Awas Penipuan! Tawaran Magang ke Luar Negeri untuk SMK
siswa-smk-informatika
Ilustrasi. Siswa SMK Informatika (foto: blog)

Awas Penipuan! Tawaran Magang ke Luar Negeri untuk SMK

Edupost.id – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan adanya modus baru eksploitasi dan perdagangan manusia berkedok program kerja magang ke luar negeri. Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kerap menjadi sasaran magang kerja ke luar negeri palsu. Bagaimana mengantisipasinya?

“Kami menduga sekolah tidak menyadari bahwa anak-anak didik mereka dieksploitasi. Diiming-imingi oleh penyalur seperti kesempatan magang ke luar negeri menjadi nilai tambah sekolah, termasuk orang tua dapat prestise jika anaknya bisa ke luar negeri” tutur Komisioner KPAI bidang Pendidikan Retno Listyarti Selasa (3/4).

Salah satu pelaku penyalur program magang palsu sudah menjadi terdakwa yakni Windy selaku Direktur PT Sofia Sukses Sejati. Perusahaannya bekerja sama dengan PT Walet Maxin Birdnest milik Albert Tei di Selangor Malaysia.

Perusahaan ini berperan menggandeng berbagai sekolah kejuruan terutamanya di Jawa Tengah untuk memberangkatkan siswa SMK magang di Malaysia. Para siswa yang umumnya masih kelas 11 SMK itu harus bekerja dengan durasi 18 jam per hari.

Parahnya, mereka tidak ditempatkan bekerja sesuai dengan keahlian kejuruan. Bahkan, mereka digaji rendah dan mendapat perlakuan yang tidak manusiawi.

“Anehnya, siswa yang dibawa itu dari sekolah jurusan elektro tapi sampai tujuan malah dipekerjakan di kapal dengan tugas yang berbeda dengan jurusan siswanya,” jelasnya.

Retno menjelaskan, para korban terutama siswa laki-laki berangkat kerja magang memakai visa kunjungan dan bukan visa kerja. Mereka tidak mendapat bekal pelatihan terlebih dahulu sebelum diberangkatkan.

Berdasarkan data sementara yang dimiliki KPAI, korban magang palsu yang berangkat luar negeri berjumlah 600 orang di Jawa Tengah dan NTT sejak 2009 silam.

Di NTT, para siswa magang bekerja di perkapalan sampai 15 bulan sementara izin visa kunjungannya hanya tiga bulan. Hal ini juga membuat status siswa korban tersebut tidak lagi masuk kategori umur anak-anak karena melampaui usia 17 tahun ke atas.

Dari tahun 2016 hingga 2018, Bidang Trafficking KPAI menemukan data trafficking yang menyasar anak-anak mencapai 38 kasus dengan modus magang ke luar negeri. (Andi)

Check Also

Lulusan SMK Seni Punya Peluang Kerja yang Luas

Mengapa Banyak Lulusan SMK Menganggur ?

Edupost.id – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menyampaikan Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK) saat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

=[Tutup Klik 2x]=