Jumat , 28 Juli 2017
Home / Berita Pendidikan / Bandung Masagi, Pendidikan Karakter Terbaru di Sekolah
Bandung-Masagi-Pendidikan-Karakter-Terbaru-di-Sekolah
Bandung Masagi, Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal Terbaru di Sekolah. (Foto: ayobandung)

Bandung Masagi, Pendidikan Karakter Terbaru di Sekolah

Edupost.id – Bandung Masagi merupakan model pendidikan karakter terbaru di sekolah yang dirumuskan Dinas Pendidikan Kota Bandung (Disdik Bandung). Kata ‘masagi’ dalam Bahasa Sunda berarti paripurna, kokoh, dan ajeg menuju kesempurnaan. Program tersebut diluncurkan bertepatan pada Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) di SMA Negeri 8 Bandung beberapa waktu lalu.

“Model pendidikan karakter Bandung Masagi ini merupakan bentuk konkret revolusi mental agar anak-anak Bandung memiliki pijakan akar jati diri kearifan lokal dan kompetensi abad 21,” ujar Walikota Bandung, Ridwan Kamil dalam siaran pers.

Implementasi Bandung Masagi, tambahnya, telah dilatihkan kepada guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah di Kota Bandung bulan Juni yang lalu, dan disosialisasikan kepada guru-guru sasaran di seluruh Kota Bandung. Bandung Masagi mengandung empat prinsip utama masyarakat Sunda dalam mengamalkan kehidupan, yakni silih asih (kemanusiaan), silih asah(mencerdaskan), silih asuh (mendampingi), dan silih wawangi (mengampaikan hal-hal positif). Keempat prinsip tersebut diwujudkan ke dalam empat program utama, yakni cinta agama, jaga budaya, bela negara, dan cinta lingkungan.

“Karena kan kita sudah mewajibkan semua panitianya guru. Jadi logikanya kalau guru yang jadi panitia PLS insya-Allah tidak ada istilah perpeloncoan,” tuturnya.

Sementara itu menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan mengapresiasi masyarakat pendidikan di Kota Bandung yang mencanangkan program Bandung Masagi, yaitu implementasi sebuah model pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Bandung melakukan terobosan, membuat program Bandung Masagi.

“Saya sangat mengapresiasi program ini. Kedua, saya ingin mengabarkan pada semua di seluruh Indonesia, ini contoh, mari kita buat di tiap tempat seperti Bandung. Kita ingin PLS itu benar-benar sebuah pengenalan yang nuansanya pembelajaran,” imbuh Anies Baswedan.

Anies kembali menegaskan bahwa perpeloncoan dan kekerasan di dunia pendidikan harus dihapus, diganti dengan kegiatan yang menumbuhkan karakter positif siswa. “Untuk menumbuhkan generasi yang tangguh, tidak harus dengan memakai kekerasan. Contohnya Jerman, mereka melarang kekerasan di sekolah sejak lama, dan mereka mampu menghasilkan generasi yang tangguh,” ujar mantan Rektor Universitas Paramadina tersebut. (Kemdikbud/Nisa)

Check Also

guru-mengajar

Tak Hanya Mengajar, Guru Perlu Didik Karakter Siswa

Edupost.id  – Akhir-akhir ini banyak terjadi kasus kenakalan pelajar di Indonesia. Ini harus menjadi perhatian …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *