Minggu , 22 Oktober 2017
Home / Berita Pendidikan / DIY Borong Juara Gebyar Perpustakaan Nasional 2017
Perpustakaan SMA Muhi Wakili DIY di Tingkat Nasional
Perpustakaan SMA Muhi Wakili DIY di Tingkat Nasional tahun 2016

DIY Borong Juara Gebyar Perpustakaan Nasional 2017

Edupost.id – Daerah Istimewa Yogyakarta berhasil menjadi juara umum pada ajang Gebyar Perpustakaan Nasional 2017. Predikat juara umum didapat setelah DIY memborong beberapa juara tingkat nasional ini.

Prestasi nasional yang diraih di antaranya adalah juara satu lomba perpustakaan tingkat SMA yang diraih oleh SMA Negeri II Bantul, juara I pustakawan terbaik nasional yang diraih oleh Purwani Istiana dari Fakultas Geografi UGM, dan juara II lomba perpustakaan desa yang diraih oleh Desa Sukoharjo, Ngaglik Sleman.

Tidak hanya itu, DIY menyabet juara I Lomba Kearsipan Nasional Antar Provinsi. Perwakilan DIY juga menyabet juara I lomba bercerita tingkat SD/MI atas nama Fathin Ajwa Isnaini, dari SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta. Selain itu, diraih pula apresiasi anugerah Jasa Dharma Putra Loka atau perpustakaan berbasis komunitas, yang diraih oleh Nanang Sujatmiko dari Desa Widodomartani, Ngemplak, Sleman.

Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIY, Budi Wibowo bersyukur atas prestasi dalam perpustakaan dan kearsipan ini. “Saya berharap prestasi itu dapat memacu untuk terus berkarya lebih baik lagi,” katanya.

Meski telah berhasil meraih prestasi nasional, Budi mengaku masih punya banyak pekerjaan rumah teekait perpustakaan di DIY. Menurutnya, masih banyak perpustakaan di DIY yang belum memenuhi standar nasional dalam jumlah buku.

Ia menyebut masih ada perpustakaan sekolah yang hanya memiliki koleksi 200 buku. Padahal standar nasional minimal koleksi buku sebanyak 10.000 eksemplar. Hal itu menjadi tugas bersama untuk mewujudkan semua perpustakaan baik perpustakaan sekolah, desa, hingga perpustakaan komunitas agar memenuhi standar nasional.

Selain itu, katanya, visi misi perpustakaan dan kearsipan DIY tidak hanya berhenti pada koleksi buku, namun harus mampu berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan di DIY, seperti kemiskinan, kesenjangan sosial, hingga meningkatkan minat baca yang masih rendah. (Andi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *