Minggu , 26 Maret 2017
Home / Berita Pendidikan / Full Day School, Mendikbud: Baru Dirumuskan, Belum Keputusan
Mendikbud, Muhadjir Effendy
Mendikbud, Muhadjir Effendy

Full Day School, Mendikbud: Baru Dirumuskan, Belum Keputusan

Edupost.id – Rencana pemerintah untuk menerapkan kebijakan Full Day School ditentang banyak pihak. Menanggapi hal tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menyatakan bahwa Full Day School masih dalam tahap perumusan dan belum sampai keputusan

Ia menyebutkan, pihaknya kini tengah merumuskan konsep implementasi pendidikan karakter di sekolah. “Sekarang ini Kemendikbud sedang merumuskan yang lebih konkret. Kami sebagai pembantu presiden harus menerjemahkan visi beliau di bidang pendidikan seperti yang tercantum dalam Nawacita. Kalau ada kritik yang menganggap bahwa itu kurang, tentu masukan itu akan kami kaji lebih lanjut dengan melibatkan banyak pihak untuk merumuskannya,” papar Mendikbud.

Muhadjir menyampaikan, isu full day school muncul karena beberapa waktu lalu muncul wacana mengenai penambahan waktu di luar kelas untuk pendidikan karakter. Namun, karena metode dan pendekatan yang dibahas itu dianggap seperti konsep full day school, maka muncul istilah tersebut.

“Padahal kami belum sampai pada kesimpulan itu (full day school),” ujar mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu.

Ia menuturkan, Nawacita mengamanatkan pentingnya pendidikan karakter pada level pendidikan dasar. Untuk jenjang SD, porsi pendidikan karakter harus mencapai 80 persen, sedangkan 20 persen sisanya merupakan pengetahuan. Sementara untuk jenjang SMP, porsi pendidikan karakter sebesar 60 persen dan pengetahuan sebesar 40 persen.

“Nah, bagaimana itu bisa diimplementasikan menjadi riil kurikulum? Kemudian kami berdiskusi, dan membahas bahwa perlu adanya waktu yang cukup, namun tidak dilakukan di dalam kelas, atau disebut juga ko-kurikuler,” terangnya.

Ia mengatakan, pendidikan karakter sebagian besar bisa diimplementasikan dalam bentuk tindakan, yaitu aktivitas sehari-hari dan keteladanan. Selain itu, setiap daerah juga harus bisa menggali kearifan lokal dan kekayaan lokal, termasuk pendekatan budaya. Karena itu, Kemendikbud melihat perlunya penambahan waktu di luar kelas. Konsepnya pun akan berbeda-beda, tergantung kearifan lokal yang dimiliki tiap daerah.

“Perlakuan untuk SD dan SMP tentu berbeda,” tambahnya. Ia menuturkan, pendidikan karakter tidak hanya ada di dalam kelas, tetapi juga akan diterapkan di luar kelas, atau disebut juga ko-kurikuler. (Kemdikbud/IK-SS)

Check Also

Soal-Ujian-Terlalu-Sulit-Nilai-UN-SMP-2016-Turun

Full Day School, Pemerintah Perlu Perhatikan Tiga Hal 

Edupost.id – Kepala MAN Wonokromo Bantul, Ali Asmu’i mengatakan, jika tujuan pemerintah melaksanakan kebijakan full …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *