Rabu , 23 Mei 2018
Home / Berita Pendidikan / Guru Besar Unair : Sok Jagoan Bisa Jadi Identitas Sosial Anak
kekerasan dalam pendidikan
Stop kekerasan dalam pendidikan

Guru Besar Unair : Sok Jagoan Bisa Jadi Identitas Sosial Anak

Edupost.id – Guru Besar bidang Sosiologi Ekonomi FISIP Unair, Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs., M.Si. mengatakan, kenakalan yang dilakukan anak-anak usia sekolah tidak lepas dari upaya anak-anak itu sendiri dalam membangun reputasi melalui kekerasan. Hal ini dikatakan Prof. Bagong menanggapi Kasus penganiayaan siswa terhadap guru di SMAN 1 Torjun Sampang.

“Di kalangan anak-anak itu ada yang namanya subkultur sok jagoan. Subkultur itu jadi identitas sosialnya. Jadi, kalau dia mau diterima dalam sebuah kelompok dan dihormati dalam kelompok itu, maka yang dilakukan adalah menunjukkan kekuatannya,” terang Prof. Bagong, dikutip dari laman Unair, Jumat (9/2).

Ditambahkan, anak-anak yang memiliki reputasi akademik yang bagus akan cenderung membangun reputasi dari prestasi akademik. Tapi anak-anak marjinal yang tidak dalam kategori berprestasi dalam hal akademik biasanya cenderung membangun reputasi dengan membangun subkultur kekerasan.

“Nah, anak-anak pada subkultur kekerasan ini yang kemudian menjadi pelaku bullying, sok jagoan, suka memalak temannya sendiri, dan bahkan meresahkan guru,” tandasnya.

Berkenaan dengan peran sekolah, Prof. Bagong menegaskan bahwa sekolah di Indonesia masih kurang mampu membangun karakter yang baik pada siswa. Hal ini dapat dilihat dari sistem pendidikan yang memaksakan antarsiswa untuk berkompetisi dan bersaing menjadi yang terbaik.

“Hal ini menjadikan nilai-nilai solidaritas, sopan santun, kohesi sosial itu tidak ditumbuhkan dengan baik. Di kepalanya itu tidak tumbuh konstruksi bahwa siswa harus menghormati guru, solider, dan toleransinya harus tinggi,” paparnya.

Untuk mencegah munculnya persoalan kekerasan yang dilakukan anak, menurut Prof. Bahong, perlu upaya untuk mengubah sistem yang diterapkan dunia pendidikan. Sekolah harus mengajarkan toleransi dan perbedaan.

“Menurut saya harus ada perubahan grand design -nya pendidikan itu. Kuncinya, ya diajari toleran, menghargai perbedaan di antara sesama, supaya selain mencegah subkultur kekerasan tidak jadi kasus-kasus bullying dan hilangnya etika terhadap guru tidak terulang lagi,” pungkasnya.

Check Also

kekerasan dalam pendidikan

Hardiknas, Kekerasan di Sekolah masih Menghantui Dunia Pendidikan

Edupost.id – Pada peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2018, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti masih tingginya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

=[Tutup Klik 2x]=