Senin , 16 Juli 2018
Home / Berita Pendidikan / Guru di Sampang Meninggal Dianiaya Muridnya
kekerasan dalam pendidikan
Stop kekerasan dalam pendidikan

Guru di Sampang Meninggal Dianiaya Muridnya

Edupost.id – Seorang guru kesenian di SMA Negeri I Torjun, Sampang, Ahmad Budi Cahyono, dilaporkan meninggal dunia akibat penganiayaan yang dilakukan oleh salah satu anak didiknya. Terkait kejadian ini, Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus kekerasan ini.

Sekjen FSGI, Heru Purnomo, mengatakan, kejadian semacam ini bukan yang pertama terjadi. Kasus kekerasan tidak hanya dilakukan oleh siswanya tetapi juga dilakukan orangtua siswa, bahkan ada yang dilakukan oleh siswa dengan orangtuanya secara bersama-sama, seperti menimpa Dasrul, seorang guru di Sulawesi Selatan.

Menurut UUGD Nomor 14 Tahun 2005 pasal 39 ayat 1 disebutkan bahwa Pemerintah, Pemerintah Daerah, masyarakat, organisasi profesi, dan/atau satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas. Maknanya bahwa siapa saja yang terkait dalam UUGD No 14 Tahun 2005 hàrus memberikan perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas.

“Karena guru korban dianiaya dalam pelaksanaan tugas, maka FSGI meminta kepada aparatur penegak hukum untuk melakukan pengusutan apa penyebab kematian guru tersebut. Jika karena pemukukan siswa sebagai penyebab kematian guru maka hukum harus ditegakkan,” kata Sekjen FSGI, Heru Purnomo, Jumat (2/2).

Kejadian ini, kata Heru, sudah di luar batas kewajaran sehingga harus menjadi perhatian dan efek jera kepada para siswa yang berpotensi melakukan tindak kekerasan, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Sedangkan bagi para pendidik harus selalu menyadari bahwa dalam melaksanakan tugas ada resiko seperti itu.

Siswa sebagai penganiaya, menurut Heru, wajib diproses secara hukum sesuai UU No 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA). Proses hukum akan menjadi perhatian dan efek jera kepada para siswa yang berpotensi melakukan tindak kekerasan, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.

Oleh karena itu, FSGI mendorong pemerintah terutama dinas-dinas pendidikan di daerah untuk memberikan perlindungan kepada para guru dalam menjalankan profesinya, terutama di lingkungan sekolah.

“Harus ada SOP baik guru maupun siswa, ketika menjadi korban kekerasan di lingkungan sekolah. Pihak sekolah dan pemerintah daerah wajib memberikan pertolongan pertama dan segera membawa korban ke rumah sakit sehingga dapat dideteksi segera dampaknya dan tidak terlambat mendapatkan bantuan dan tindakan medis sebagaimana mestinya,” pungkas Heru. (Andi)

Check Also

kekerasan dalam pendidikan

Hardiknas, Kekerasan di Sekolah masih Menghantui Dunia Pendidikan

Edupost.id – Pada peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2018, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti masih tingginya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

=[Tutup Klik 2x]=