Selasa , 21 November 2017
Home / Berita Pendidikan / Indonesia Kembali Hadir di Frankfurt Book Fair
Indonesia Kembali Hadir di Frankfurt Book Fair

Indonesia Kembali Hadir di Frankfurt Book Fair

Edupost.id – Indonesia kembali hadir dalam pameran buku terbesar dan tertua di dunia, Frankfurt Book Fair. Dalam gelaran internasional ini, Indonesia membawa sekitar 300 judul buku pilihan yang ditulis 200 penulis. Beberapa penulis turut diundang dalam acara yang dihadiri Presiden Prancis Emanuel Marcon dan Kanselir Jerman Angela Merkel itu.

Dalam event yang bertempat di Frankfurt Trade Fair tersebut, Indonesia juga menyelenggarakan pembacaan buku oleh para penulis seperti “Wajah Terakhir” karya Mona Sylviana, karya-karya Zen Hae, dan buku puisi karya Aan Mansyur. Selain itu, ada peluncuran buku “Home Sweet Home” karya Anton Gautama dan berbagai diskusi. Salah satu diskusi mengangkat tema toleransi di Indonesia yang menghadirkan penulis Zaky Yamani, Avianti Armand dan Ben Sohib.

 
Turut hadir pula Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid sebagai pembicara dalam diskusi bertema “Pemerataan Distribusi Buku di Indonesia”. Hilmar menyampaikan, dengan 17.000 pulau dan luas hampir 2 juta km2, pemerataan dan distribusi buku di Indonesia memiliki tantangan tersendiri, khususnya bagi pemerintah.
 
Selain itu, Indonesia juga memikat pengunjung dengan kulinernya lewat buku Jakarta Bite dan demo masak oleh Petty Elliot. Etty Prihatini, warga Indonesia yang membantu Petty menyebutkan bahwa mereka kewalahan menghadapi pengunjung Frankfurt Book Fair yang ingin mencicipi masakan Indonesia.
 
Duta Besar RI untuk Jerman Fauzi Bowo menjelaskan bahwa sejak menjadi tamu kehormatan, industri literasi Indonesia semakin dikenal oleh penerbit Eropa, khususnya Jerman. Hadirnya Indonesia dalam acara ini memang menjadi ajang promosi dan menjalin kerja sama dengan industri literasi di Eropa dan dunia.
 
Walau demikian, Hilmar Farid mengatakan bahwa masyarakat Indonesia masih berjuang menegakkan literasi. Indonesia, tidak bisa tidak, harus mengikuti perkembangan industri buku di dunia. “Seharusnya kita mengikuti kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan literasi. Akan tetapi karena industri begitu cepat bergerak, tak ada cara lain kita juga harus mengikuti gejolak industri perbukuan internasional,” ujar Hilmar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *