Minggu , 28 Mei 2017
Home / Berita Pendidikan / Indonesia Tuan Rumah Peluncuran GEM UNESCO 2016
Indonesia tuan rumah GEM UNESCO 2016
Indonesia tuan rumah GEM UNESCO 2016

Indonesia Tuan Rumah Peluncuran GEM UNESCO 2016

Edupost.id – Jakarta terpilih sebagai empat kota di dunia yang menjadi tuan rumah peluncuran resmi Laporan Pemantauan Pendidikan Global atau Global Education Monitoring (GEM) UNESCO 2016. Tiga kota lainnya yaitu London (Inggris), Kigali (Rwanda) dan Medellin (Kolumbia).

Dalam kesempatan itu, UNESCO, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud) dan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) menghadirkan sejumlah pembicara. Diantaranya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Profesor Muhadjir Effendy, Asisten Direktur Jenderal untuk Pendidikan UNESCO Qian Tang, Direktur dan Perwakilan UNESCO Jakarta Shahbaz Khan, Sekretaris Departemen Pendidikan Filipina Leonor Briones dan Analis Kebijakan Senior Laporan GEM Manos Antoninis. Pakar terkemuka lainnya dari Indonesia adalah Sekretaris Jenderal Kemendikbud Didik Suhardi, Staff Ahli Menteri Kemendikbud Ananto Kusuma Seta dan Ketua Umum Harian KNIU Profesor Arief Rachman.

Berdasarkan Laporan GEM, Pendidikan bagi Manusia dan Bumi: Menciptakan Masa Depan Berkelanjutan untuk Semua, tren saat ini menunjukkan pendidikan dasar universal dunia hanya akan dicapai tahun 2042. Sementara pendidikan menengah dasar (SMP) dicapai tahun 2059 dan pendidikan menengah ke atas (SMA) tahun 2084. Ini artinya, dunia terlambat setengah abad dari tenggat waktu pencapaian SDG 2030.

Menurut laporan, pendidikan perlu menekankan perhatian lebih akan masalah lingkungan. Setengah negara di dunia tidak memiliki kurikulum yang secara eksplisit membahas perubahan iklim. Di negara-negara anggota OECD, hampir 40% siswa berusia 15 tahun memiliki pengetahuan terbatas akan isu-isu lingkungan.

“Laporan GEM edisi pertama ini harus menjadi alarm pengingat. Untuk mencapai komitmen pendidikan global dunia harus menghentikan tren sebelumnya. Kini, pendidikan harus bertindak sebagai agen perubahan untuk mencapai Agenda 2030,” ungkap Asisten Direktur Jenderal untuk Pendidikan UNESCO Dr. Qian Tang.

Pendidikan harus melindungi kebudayaan minoritas dan bahasa terkait, yang memiliki informasi vital tentang bagaimana ekosistem berfungsi. Tapi laporan menunjukkan 40% populasi global diajar dalam bahasa yang tidak mereka mengerti.

“Merasa puas akan pendidikan bukanlah pilihan jika ingin menyelesaikan masalah global seperti perubahan iklim, persamaan gender, konflik kekerasan dan kemiskinan,” kata Analis Kebijakan Senior Laporan GEM Manos Antoninis. “Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran kaum muda dan dewasa dalam masyarakat dan dunia kerja diperlukan demi memastikan pembangunan berkelanjutan untuk semua 15 tahun ke depan,” tambahnya. (Kemdikbud/IK-SS)

Check Also

Syarat Indonesia Maju, Pendidikan Sesuai Kebutuhan

Syarat Indonesia Maju, Pendidikan Sesuai Kebutuhan

Edupost.id – Indonesia memiliki potensi menjadi negara maju jika sumber daya manusianya memiliki kualitas pendidikan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *