Senin , 29 Mei 2017
Home / Berita Pendidikan / Kasus Guru Dipenjara, Penyebab: Orangtua Kurang Bijaksana
guru-dipenjara
Ilustrasi. Guru dipenjara

Kasus Guru Dipenjara, Penyebab: Orangtua Kurang Bijaksana

Edupost.id – Kasus guru yang dipidana orangtua siswa mengundang komentar dari rekan-rekan guru lainnya. Mereka menilai, orangtua seperti itu termasuk orangtua yang kurang bijaksana dalam menyikapi masalah yang dihadapi anaknya. Seharusnya ada komunikasi antara guru dan orangtua siswa.

“Kejadian semacam itu tidak semestinya terjadi. Orangtua harus bijaksana melihat permasalahan yang ada. Semua hanya masalah komunikasi yang kurang baik antara guru dan orangtua,” ungkap Ketua IGI Sleman, Ary Gunawan kepada Edupost.id.

Baca juga: Guru Dipenjara Cubit Siswa, IGI DIY: Hindari Kekerasan

Ary menambahkan, guru merupakan profesi yang terkait kode etik. IGI sendiri turut serta dalam mendorong perlindungan hukum bagi guru sesuai dengan PP No. 74 tahun 2008.

Hal serupa juga disampaikan Guru BK SMKN 1 Bogor, Yoesi Ika Fiandarti. Ia menyebutkan, orangtua terkadang tidak paham mengenai maksud dari pendidikan yang sebenarnya. Mereka berada dalam kondisi ketakutan sehingga tidak menggunakan logika dalam menghadapi masalah anaknya di sekolah.

“Menurut saya guru sebagai pendidik tidak terbatas hanya mentransfer ilmu saja tapi juga membentuk pola sikap dan tingkah laku. Jika guru memberikan hukuman yang masih dianggap wajar itu sah-sah saja karena tugas guru sebagai orangtua di sekolah harus mampu membentuk karakter anak tidak sebatas hanya membuat dia pandai saja,” jelasnya.

Yoesi menambahkan, kurangnya komunikasi juga menjadi faktor utama. Jika komunikasi dibangun dengan baik, maka kasus seperti itu tidak terjadi. Banyaknya kasus guru yang dipenjara, bagi Yoesi, hal itu menjadikan guru kehilangan perannya. Saat ini, guru menjadi tidak nyaman untuk mendidik siswanya.

“Intinya, kita sebagai orangtua ataupun guru harus bisa mengintropeksi diri dengan hal-hal yang kita lakukan guna perbaikan kedepannya. Alhamdulillah selama saya menjadi guru belum pernah berselisih paham dengan orangtua siswa karena pola yang dikedepankan adalah pola komunikasi yang baik agar tujuan utama tercapai (siswa mampu berprestasi dan menyelesaikan tugas belajarnya dengan baik),” paparnya. (Nisa)

Check Also

guru-mengajar

Komite Sekolah Bebas Galang Dana, Sekolah Berpotensi “Dijual”

Edupost.ID – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menerbitkan Permendikbud Nomor 75 tahun 2016 tentang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *