Rabu , 23 Mei 2018
Home / Berita Pendidikan / Ketum IGI : Kekerasan di Sekolah Akibat Stres Akademik
stop-bullying-kekerasan
Ilustrasi. Stop bullying (kekerasan)

Ketum IGI : Kekerasan di Sekolah Akibat Stres Akademik

Edupost.id – Kasus pembunuhan Ahmad Budi Cahyanto (27 tahun) pada Kamis (1/2) lalu menimbulkan gejolak di dunia pendidikan Indonesia. Budi merupakan pengajar seni di SMAN 1 Torjun Sampang, Jawa Timur yang dikabarkan meninggal yang dilakukan anak didiknya, MH.

Kasus ini menambah panjang deretan kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, baik yang dilakukan oleh siswa maupun guru. Ini seolah membuka mata kita bahwa ada yang salah dalam pendidikan kita.

Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim, mengungkapkan, ada fenomena stress akademik yang terjadi di dunia pendidikan Indonesia. Inilah yang menurut Ramli selalu memicu tindakan kekerasan di lingkungan pendidikan.

“Ini sudah sangat parah. Menurut kami ada sesuatu yang terjadi di Indonesia secara keseluruhan, yang namanya stress akademik yang terjadi di guru dan juga di siswa,” ujar Ramli kepada Edupost.id melalui sambungan telepon, Jumat (9/2).

Di kalangan siswa, stress akademik dipicu oleh beban berat mata pelajaran di sekolah. Menurut Ramli, hampir tidak ada negara lain di dunia yang memiliki mata pelajaran lwbih dari 10 seperti di Indonesia. Seperti diketahui, siswa di Indonesia harus menerima hingga 16 mata pelajaran.

Banyaknya jumlah mata pelajaran ini sangat memberatkan beban pikiran siswa. Sehingga akan mempermudah siswa tersulut stress. Stress inilah yang membuat siswa mudah melakukan tindak kekerasan, bahkan kepada gurunya sendiri.

Selain siswa, guru juga mengalami stress akademik akibat banyaknya beban kerja guru. Selain harus mengajar, guru juga dibebani kerja administrasi yang berat. Sehingga banyak juga ditemui kasus kekerasan yang dilakukan oleh guru.

“Stress-stress ini menimbulkan emosi yang memuncak, akhirnya terjadilah kekerasan,” imbuh guru SMK Kehutanan Widya Nusantara Maros ini.

Melihat paahnya kasus kekerasan di dunia pendidikan, Ramli menilai, kurang tepat kalau hanya guru yang dilindungi. Menurutnya, siswa juga tak jarang dapat menjadi korban kekerasan di sekolah.

“Sekarang yang butuh dilindungi adalah warga sekolah. Karena mau perlindungan guru, guru melakukan ke siswa. Perlindungan anak, anak melakukan kekerasan ke guru. Jadi yang diperlukan perlindungan warga sekolah, bukan hanya perlindungan guru atau perlindungan anak,” terangnya. (Andi)

Check Also

kekerasan dalam pendidikan

Hardiknas, Kekerasan di Sekolah masih Menghantui Dunia Pendidikan

Edupost.id – Pada peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2018, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti masih tingginya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

=[Tutup Klik 2x]=