Sabtu , 27 Mei 2017
Home / Berita Pendidikan / Ketum IPPN: Perkawinan Usia Dini Berdampak Negatif
pelajar sma
Ilustrasi: Pelajar SMA

Ketum IPPN: Perkawinan Usia Dini Berdampak Negatif

Edupost.id- Ketua Umum pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdatul Ulama (IPPNU), Puti Hasni menghimbau agar pelajar NU tidak menikah di usia yang belum matang karena berdamoak negatif. Pernikahan dini akan berdampak pada pelakunya, seperti tidak mendapat jenjang pendidikan tinggi, dan akan kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak.

“Kedua, berdampak pada kesehatan, jika belum cukup umur untuk hamil dan melahirkan. Maka akan mempengaruhi kesehata reproduksi,” kata Puti Hasni

Ketiga, berdampak secara psikologis. Menurutnya, ketidaksiapan mental akan mempengaruhi kemampuan mengelola emosi dan bersikap pada keluarga.

Puti menambahkan, bahwa menikah di usia dini akan berdampak pada lingkungan sekitar pelaku. “Dan yang keempat, berdampak sosial. Keluarga yang dibangun dari usia yang belum matang berpotensi melahirkan kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya,” jelas Puti saat menghadiri acara bersama 30 peserta perwakilan dari p[impinan Cabang IPPNU di Jakarta Selatan senin, (17/10) kemarin.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Maria Ulfah Anshor, menyampaikan, berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Anak, usia minimal perempuan dapat menikah pada usia18 tahun.

“IPPNU harus memperkuat kapasitas kelembagaan sebagai agen perubahan dalam advokasi pencegahan perkawinan anak. Juga menjadi teman (peer group) untuk pendampingan anak korban kawin paksa, KTP-KTA berbasis komunitas,” pinta Mariah.

Ketua Litbang PP IPPNU Siti Fatkhiyatul jannah memiliki komitmen memperkuat kapasitas sebagai agen perubahan dalam advokasi penghentian perkawinan anak. Berbagai cara dilakukan PP IPPNU untuk mengkampanyekan hal itu, misalnya melalui media sosial, internet sehat (cerdas, aman, kreatif dan produktif), sampai membentuk komunitas anti-perkawinan anak.

Kegiatan ini merupakan agenda bulanan Departmen Pendidikan Pengakderan dan pengembangan sumber daya manusia (PPS) PP IPPNU untuk membahas isu-isu terkini.

Sebelumnya, panitia FGD Avifah M menyampaikan tujuan diselenggarakan kegiatan tersebut ialah untuk memberikan kesadaran kepada pelajar bahwa perkawinan anak musti dibenahi.

“Tahap awal tentunya kita masih tahap elaborasi dari diskusi ini, dari dukumen-dukumen notulensi yang kita simpan nanti harapannnya ada diskusi lanjutan dimana kita dapat mengkampanyekan stop perkawinan anak,” ujar Avifah. (KPAI/Inan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *