Selasa , 24 Januari 2017
Home / Berita Pendidikan / Kompetensi Guru Indonesia Masih Memprihatinkan
guru
Ilustrasi. Guru

Kompetensi Guru Indonesia Masih Memprihatinkan

Edupost.id – Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim menyebut, kompetensi guru di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Kenyataan ini telah membuka mata banyak pihak, peningkatan kompetensi guru menjadi hal yang sangat mendesak dilakukan.

Dalam keterangan pers yang diterima Edupoist.id, Sabtu (20/8), Ramli menjelaskan, rendahnya kompetensi guru ini terlihat pada hasil Uji Kompetensi Guru (UKG). Dalam UKG yang hanya mengukur 2 dari 4 kompetensi dasar guru ini terlihat jelas bahwa hanya ada 6% lebih dari 2,6 juta guru yang dinyatakan lulus dan tak perlu dilatih lagi. Ketika data seleksi CPNS guru dibuka, ada calon guru yang hanya bisa menjawab 1 benar dari 40 soal bahkan ada calon guru yang hanya mampu menjawab 5 benar dari 100 soal seleksi.

Sayangnya, tidak banyak pihak yang memperhatikan kualitas guru Indonesia. Banyak perusahaan-perusahaan besar mengarahkan dana CSR-nya untuk pengembangan kemampuan siswa. Pemerintah pun dulunya jauh lebih fokus pada peningkatan kemampuan dan fasilitas belajar siswa dibanding gurunya. “Padahal kita di belakang hari menemukan bahwa siswa jauh berkembang, guru semakin tertinggal. Dulu ketika kita berbicara kompetensi guru apalagi bercerita tentang mendidik guru membangun bangsa, begitu banyak yang tidak terima karena dianggap melecehkan guru,” ujar Ramli.

Teknologi semakin maju, pengetahuan siswa tumbuh semakin pesat, bahkan melampau tuntunan jaman. Tak jarang, ketika guru mengajar di kelas, siswanya ternyata lebih tahu dari gurunya, bahkan siswanya memiliki referensi lebih kuat dari gurunya. Di sanalah kewibawaan guru mulai luntur. Di sanalah penghormatan sebagai sumber ilmu mulai kendor, di sanalah siswa mulai mengurangi keyakinannya terhadap guru.

Mendikbud Muhadjir Effendy dalam pidato hari kemerdekaan menitikberatkan pada 3 hal yaitu pendidikan karakter, KIP untuk Education For All dan Pendidikan Vokasi. Tiga hal ini, menurut Ramli, didukung sepenuhnya oleh IGI. Tapi tentunya banyak hal yang membutuhkan kajian mendalam tentang ketiga hal tersebut. “Pendidikan karakter harus maksimal bukan hanya bercerita soal FDS dan pengurangan jam mengajar guru menjadi 12 jam. KIP yang tidak tepat sasaran lalu mencabut pendidikan gratis malah akan meningkatkan angka putus sekolah, sementara pendidikan vokasi yang jauh dari industri akan melahirkan lulusan tak siap pakai,” terangnya.(Andi)

Check Also

siswa SD

Sekolah Dilarang Tarik Pungutan, Beri Ruang Sama untuk Siswa Miskin

Edupost.ID – Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim mengatakan, IGI …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *