Jumat , 25 Mei 2018
Home / Berita Pendidikan / Ajarkan Pendidikan Karakter, Mengapa Wayang semakin Ditinggalkan?
Wayang
Wayang

Ajarkan Pendidikan Karakter, Mengapa Wayang semakin Ditinggalkan?

Edupost.id – Di kalangan anak-anak, kesenian wayang, seperti wayang kulit tidak lagi menarik. Padahal, wayang dapat menjadi salah satu media pendidikan karakter yang baik.

Ketika dimintai tanggapan terkait hal itu, Kepala Museum Pendidikan Indonesia (MPI) Hajar Pamadi mengatakan, di era saat ini tidak banyak anak-anak yang tertarik menggeluti seni tradisi ini. Anak-anak lebih banyak mengenal tokoh-tokoh fiksi luar negeri dibanding tokoh dunia pewayangan Indonesia.

“Yang tertarik melestarikan kesenian wayang biasanya anak-anak yang orang tuanya juga mencintai wayang, ” kata Hajar kepada Edupost.id, Senin (30/4).

Ditambahkan, upaya melestarikan kesenian wayang di kalangan anak-anak sebenarnya sangatlah diperlukan. Selain melestarikan budaya bangsa, ternyata wayang adalah media yang baik untuk menanamkan pendidikan karakter.

Dalam pertunjukan wayang, kata Hajar, ada dua komponen utama yakni wayang dan dalang. Sehingga, muncul istilah pewayangan dan pedalangan.

Wayang mewakili karakter manusia, ada yang baik dan buruk. Sedangkan dalang mewakili pola kehidupan manusia yang berada di antara kebaikan dan keburukan.

“Masing-masing itu bagaimana anak bisa meresapi karakter orang baik dan orang jelek melalui bentuk dan suara. Bentuk itu wayang, suara itu dalang,” katanya.

Cerita – cerita dalam dunia pewayangan, kata Hajar, juga membawa pesan moral yang baik bagi anak. Anak dapat meresapi orang berkarakter baik maupun buruk melalui cerita itu. (Andi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

=[Tutup Klik 2x]=