Selasa , 23 Mei 2017
Home / Berita Pendidikan / Nilai UKG Ditarget 80, IGI : Itu Sebuah Keharusan
guru
Ilustrasi. Guru

Nilai UKG Ditarget 80, IGI : Itu Sebuah Keharusan

Edupost.id – Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mewacanakan akan meningkatkan taget capaian nilai Ujian Kompetensi Guru (UKG). Pada tahun 2019, nilai UKG dipatok pada 80 point. Terkait kebijakan ini, Ikatan Guru Indonesia (IGI) menyatakan siap mendukungnya, karena memang sudah menjadi sebuah keharusan.

Secara bertahap, sejak tahun ini pemerintah akan terus meningkatkan target capaian ini. Pada 2016, nilai UKG ditarget 65 poin, tahun 2017 di angka 70, tahun 2018 di angka 75, tahun 2019 di angka 80.

“Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) adalah pintu masuk untuk mendapatkan TPG (Tunjangan Profesi Guru), dulu pemerintah telah berbaik hati memberikan standar rendah hanya 42, dan kini pemerintah meminta standar 80 dan itu seharusnya menjadi sebuah keniscayaan,” tegas Ketua Umum Pengurus Pusat IGI, Muhammad Ramli Rahim kepada Edupost.id, Sabtu (23/9).

Ramli mengakui, kompetensi guru Indonesia memang masih rendah. Guru-guru yang telah menerima TPG hampir 10 tahun, hanya 6,1 persen dari 2,69 juta guru yang dinyatakan lulus UKG dan tak perlu belajar lagi. Sementara 93,9% di antaranya harus melalui diklat berupa daring dan luring.

“Menurut hemat kami, PLPG 80 justru menjadi keharusan, cukuplah 2,5 juta guru ini yang diurusi oleh pemerintah untuk ditingkatkan kemampuannya, bukan menambah beban pemerintah dengan menerima mereka yang tak layak menjadi guru lalu mempersiapkan masa depan bangsa,” lanjut Ramli.

IGI sebagai salah satu organisasi profesi guru juga tidak hanya berpangku tangan. IGI, menurut Ramli, siap menggelar seminar, pelatihan uji coba ujian guru berbasis komputer dan seterusnya. Ini dilakukan demi meningkatkan kompetensi guru demi mengejar target 80 point dalam UKG.

“Kini kami terus bergerak, saya sendiri saat ini sedang menjalani Road Show Literasi Produktif di 15 Kabupaten/Kota di Sulsel sebagai upaya peningkatan kompetensi guru. Mulai dari Makassar, Maros, Pangkep, Barru, Pare, Pinrang, Sidrap, Palopo, Luwu Utara, Luwu Timur, Wajo, Bone, Takalar, Jeneponto, Bantaeng dan hari ini di Bulukumba,” pungkasnya. (Andi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *