Rabu , 20 September 2017
Home / Berita Pendidikan / Pelajar Surakarta Melintasi Jembatan Berbahaya menuju Sekolah

Pelajar Surakarta Melintasi Jembatan Berbahaya menuju Sekolah

SURAKARTA- Setiap hari ratusan Pelajar di didaerah Bolon, Kecamatan Colomadu, Karanganyar, Kota Surakarta terpaksa menyusuri jembatan berbahaya untuk berangkat sekolah.

“Setiap hari saya pulang pergi sekolah lewat sini. Ini jalur satu-satunya, jika tidak mau lewat Colomadu. Kalau lewat kota harus memutar 10 KM untuk sampai sekolah,” ungkap Arif, siswa kelas I Madrasah Tsanawiyah MTs Ngemplak, seperti dilansir RRI.

Jembatan sepanjang 50 meter itu sebenarnya hanya saluran irigasi yang dibuat sejak zaman Belanda. Konstruksi bangunan yang menyeberangi sungai Pepe ini hampir seluruhnya terbuat dari baja.  Namun, baja-baja itu kini sudah penuh karat termakan usia.

Sedangkan di atas talang air yang ada di saluran irigasi tersebut, hanya ada sebuah papan yang lebarnya tidak lebih dari 30 cm. Sementara, kedalaman sungai lebih dari 25 meter.

Saluran irigasi itu difungsikan warga sebagai jembatan penghubung antara Bolon, Kec. Colomadu Karanganyar dengan Desa Suruh Kec.Ngemplak, Boyolali Kota Surakarta.

Selain anak-anak sekolah yang melintas, warga sekitar juga memanfaatkan jembatan tersebut sebagai jalur utama, baik yang berjalan kaki, bersepeda hingga berkendara motor.

Salah seorang warga sekitar, Sugiyono (55) menyampaikan, jembatan irigasi itu sebenarnya sudah rapuh. Namun, jembatan itu sebagai akses satu-satunya bagi masyarakat Karanganyar dan Boyolali yang terpisah dengan sungai.

“Jembatan itu dibangun sejak zaman londo (Belanda). Kata bapak saya, waktu dibangun dia masih kecil. Ini memang menjadi jalan penghubung bagi masyarakat sini. Kalau tidak lewat sini bisa muter lebih dari 10KM untuk ke Ngemplak sana,” jelasnya.

Sugiyono menyebutkan, sudah banyak warga yang terperosok hingga masuk jurang. Namun demikian, tetap banyak warga yang melintas melalui jembatan irigasi itu.

“Sudah banyak kalau yang terperosok ke saluran irigasi. Tapi yang masuk sungai seingat saya sudah 5 orang. Terakhir kali itu terjun bersama motornya hingga patah tulang punggungnya,” ucapnya.

Sejak dibangun hingga kini, jembatan irigasi itu belum pernah direnovasi. Terakhir kali hanya ada perbaikan talang air, karena bocor. Sedangkan, untuk perbaikan jalur setapak yang terbuat dari papan, warga melakukannya secara bergotong royong.

Check Also

Universitas Pertamina

Universitas Pertamina Tumbuhkan Pemahaman Teknologi Siswa SMA

Edupost.id – Pesatnya perkembangan teknologi informasi di masyarakat saat ini, Universitas Pertamina melalui slogannya, “Be …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *