Minggu , 21 Oktober 2018
Home / Berita Pendidikan / Penulisan Yerusalem Ibukota Israel, Yudhistira Akui Keliru Gunakan Referensi
yudistira jerusalem
Buku IPS SD yang memuat informasi Yerussalem sebagai ibukota Israel

Penulisan Yerusalem Ibukota Israel, Yudhistira Akui Keliru Gunakan Referensi

Edupost.id – Penerbit Yudhistira secara tegas mengakui kesalahan dalam penerbitan buku IPS SD yang memuat informasi Yerussalem sebagai ibukota Israel. Permintaan maaf disampaikan langsung oleh Djadja Subagdja mewakili Penerbit Yudhistira kepada Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada Senin (18/12).

Komisoner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti mengatakan, penerbit ini secara tegas meminta maaf dan mengakui bahwa buku yang dilaporkan ke KPAI adalah buku terbitan Yudistira. Buku ini menampilkan tabel negara-negara di Benua Asia yang terdiri atas tiga kolom yaitu kolom nomor, nama negara dan nama ibukota negara.

Nama negara diurut sesuai abjad, negara Israel pada urutan nomor 7 dan di kolom ibukota tertulis Jerusalem. Sedangkan Negara Palestina di urutan no 12 dengan ibukotanya hanya diisi tanda strip (-) alias kosong.

“Buku tersebut diakui belum didaftarkan ke Pusat Buku dan Kurikulum (Pusbukkur Kemendikbud RI), sehingga Penerbit Yudhistira menyatakan bertanggungjawab penuh atas isi buku tersebut dan sudah melakukan revisi buku tersebut. Revisinya adalah Ibukota Israel yaitu Tel Aviv dan ibukota Palestina yaitu Yerusalem,” lanjut Retno, Selasa (18/12).

Penerbit Yudhistira, kata Retno, ternyata sudah mengirimkan surat penjelasan resmi bernomor 12/Pnb-YGI/XII/2017 tertanggal 12 Desember 2017 yang menyatakan, sumber data bahwa negara Israel ibukotanya Yerusalem dari world population sheet 2010. Sumber itu diakui oleh pihak Yudistira sebagai bukan sumber yang tepat sebagai referensi penulisan buku.

Penerbit Yudhistira juga menyatakan akan menarik buku-bukunya dan mengganti dengan buku baru yang sudah direvisi. Namun, saat ini masih terkendala akhir tahun dan banyak sekolah sudah sibuk mengisi rapor dan akan pembagian rapor semester ganjil.

“Jadi kemungkinan besar, baru bisa menarik dan mendistribusi buku pengganti pada Januari 2018. Penerbit berjanji akan melaporkan proses tersebut ke KPAI sebagai lembaga pengawas,” imbuh Retno.

Terkait dengan buku yang dicetak oleh Intan Pariwara, Retno mengatakan, pihaknya telah mendapatkan penjelasan dari pihak Intan Pariwara melalui emai. Mereka hanya memperbanyak naskah buku BSE dari pemerintah. Artinya, Intan Pariwara hanya mencetak bukan sebagai penerbit. (Andi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

=[Tutup Klik 2x]=