Rabu , 13 Desember 2017
Home / Berita Pendidikan / Psikolog UGM: Pelaku Begal Usia Remaja Sebaiknya Diarahkan ke Militer

Psikolog UGM: Pelaku Begal Usia Remaja Sebaiknya Diarahkan ke Militer

YOGYAKARTA- Pelaku begal usia remaja tetap mendapat perlakuan hukum atas tindakannya. Padahal pemberian hukuman dengan memenjarakan para pelaku remaja tersebut belum memberi efek dalam mengubah perilaku mereka. Hal ini disampaikan Psikolog UGM, Prof. Kwartarini Wahyu Yuniarti, M.Med.Sc., Ph.D.

Menurut Kwartarini, memasukkan pelaku begal remaja ke dalam penjara bukanlah solusi yang tepat untuk membina para tersangka. Ia menilai, pemberian hukuman dengan memenjarakan para tersangka tidak banyak berpengaruh mengubah perilaku mereka.

“Belum ada bukti keberhasilan hasil dari pembinaan di penjara, yang timbul hanya efek jera saja,” jelasnya, seperti dilansir laman UGM.

Kwartarini menerangkan, penanganan pelaku begal remaja sebaiknya dilakukan dengan menyalurkan energi positif yang ada pada diri mereka ke dalam hal-hal yang positif. Misalnya saja di bidang olahraga ataupun kemiliteran.

“Para pelaku tersebut memiliki karakter positif yakni memiliki keberanian tinggi. Hal inilah yang sebaiknya ditangkap, karakter positifnya ditangani untuk diarahkan ke hal-hal yang baik seperti tinju, sepak bola, atau kegiatan militer,” terangnya.

Ia meyakini jika hal tersebut dilakukan, akan efektif meminimalisir aksi-aksi negatif yang meresahkan masyarakat. “Tidak akan ada waktu lagi untuk berpikiran negatif karena seluruh energi telah difokuskan ke hal-hal yang baik,” jelasnya.

Selain hal tersebut, Kwartarini menyarankan, para orangtua untuk lebih memperhatikan dan melakukan pengawasan terhadap anaknya. Ia mengingatkan, para remaja berada dalam masa yang tidak stabil dan di fase pencarian jati diri, sehingga bila anak tidak memperoleh perhatian keluarga mereka cenderung akan mencari pelampiasan di luar rumah.

“Mereka mendapatkan informasi yang over load dari kiri-kanan. Ditambah lagi tidak ada pengawasan dari orang tua dan guru sehingga tindakannya jadi tidak terkontrol,” paparnya.

Kwartarini menuturkan, umumnya remaja yang bermasalah berasal dari keluarga yang tidak memfasilitasi mereka agar berkepribadian positif. Selain itu, lingkungan luar turut mempengaruhi mereka menjadi individu yang tidak baik.

“Ada kesalahan dalam parenting sehingga parental education menjadi sangat diperlukan saat ini,” tegasnya. (RR/IK)

Check Also

Sepuluh Kampus Terhijau Dunia Versi UI GreenMetric 2017

Edupost.id – University of Wageningen menjadi Kampus Hijau Terbaik di dunia berdasarkan UI GreenMetricWorld University Rankings 2017. Sementara peringkat kedua …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *