Kamis , 18 Januari 2018
Home / Berita Pendidikan / Pungli Berkedok Sumbangan Pendidikan Marak di DIY
Biaya-Dinas-Pejabat-Sedot-Anggaran-Dikti
Ilustrasi: Uang Rupiah. (Foto: bloomberg)

Pungli Berkedok Sumbangan Pendidikan Marak di DIY

Edupost.id – Pungutan liar berkedok sumbangan pendidikan masih marak dilakukan oleh sekolah-sekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sepanjang tahun 2017. Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan DIY mencatat, dari 46 pelanggaran dalam dunia pendidikan yang ditemukan ORI DIY sepanjang tahun 2017, mayoritas adalah kasus pungutan biaya pendidikan.

“Sepanjang tahun 2017 ada 46 laporan pelanggaran yang ada di sekolah hingga Perguruan Tinggi. Paling banyak adalah kasus PPDB dan pungutan biaya,” terang Asisten Kepala ORI DIY, Nugroho.

Nugroho menerangkan, kauangpungutan yang terjadi dibungkus dalam bentuk sumbangan. Setiap awal tahun ajaran baru, sekolah melalui komite sekolah mengundang orangtua siswa untuk menyodorkan kebutuhan anggaran.

Orangtua akhirnya dipaksa untuk memberikan sejumlah uang dengan jumlah dan batas waktu pembayaran tertentu. Praktek-praktek seperti ini menurut Nugroho adalah bentuk pungutan liar yang jelas dilarang, khususnya pada tingkat SD dan SMP.

“Untuk jenjang SD dan SMP hanya dibolehkan meminta sumbangan, bukan pungutan. Kalau sumbangan tidak ditentukan jumlah dan batas waktu. Jika komite sekolah menentukan besaran uang dan batas waktu pembayaran, ini jelas termasuk pungutan yang dilarang,” terangnya.

Dari tahun ke tahun, kasus seperti ini selalu terjadi. Menurut Nugroho, masyarakat harus diberi pemahaman bahwa tindakan pungutan seperti ini dilarang. Harus ada permahaman yang sama di antara berbagai pihak tentang definisi pungutan dan sumbangan.

Nugroho menyontohkan, ada sebuah MTs di Kabupaten Sleman yang melakukan pungutan pada awal tahun ajaran yang lalu. Setelah dilakukan tindakan oleh ORI DIY, pihak sekolah berjanji akan mengembalikan semua uang yang dibayarkan oleh orangtua siswa.

Hanya saja, kemudian tidak semua uang dikembalikan kepada orangtua siswa. Sekolah berdalih, sebagian besar orangtua menyatakan ikhlas memberikan dana kepada tempat belajar anak-anaknya. Sampai sekarang ORI DIY masih menunggu bukti berupa pernyataan tertulis dari para orangtua siswa yang menurut kepala sekolah telah ikhlas memberikan uangnya kepada pihak sekolah.

“Jangan sampai semangat orangtua untuk membiayai sekolah anak-anaknya justru dimanfaatkan oleh pihak sekolah dengan menarik pungutan yang dilarang. Orangtua harus diberi pemahaman tentang pungutan dan sumbangan,” pungkasnya. (Andi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *