Senin , 24 April 2017
Home / Berita Pendidikan / Puspita Tidak Naik Kelas, FSGI : Bukti Kelalaian Sekolah
siswa-SMA
Ilustrasi. Siswa SMA

Puspita Tidak Naik Kelas, FSGI : Bukti Kelalaian Sekolah

Edupost.id – Dvijatma Puspita Rahmani, siswa SMAN 4 Bandung dinyatakan tidak naik kelas lantaran mendapat nilai nol pada mata pelajaran matematika di raportnya. Bukan karena kurang disiplin atau melalaikan pelajarannya, Puspita mendapat nilai nol karena tidak mendapatkan kesempatan menyusulkan tugas dan mengikuti ulangan susulanketika siswa ini sakit dan mengikuti olimpiade biologi.

Awalnya, Puspita menderita sakit mata yang membuatnya tidak bisa masuk sekolah selama dua minggu. Setelah sembuh, siswa ini mendapat tugas dari sekolah untuk mengikuti Olimpiade Biologi. Untukitu, ia harus menjalani pelatihan selama satu minggu. Imbas sakit dan Olimpiade Biologi, maka ia tertinggal pelajaran di kelas.

“Apabila mengacu kepada standar berpikir rasional, logis,dan ilmiah pada rapor semester II tahun pelajaran 2015/2016 tidaklah mungkin siswa memperoleh nilai nol di rapor, karena ketentuan penilaian rapor dalam Kurikulum 2013 adalah nilai semester ganjil dan genap diakumulasi,” ujar Seljend Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti.

Kasus ini, dalam kajian hukum yang dilakukan FSGI, terbukti adanya unsur kelalaian sekolah, pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan dan pelanggaran etika oleh guru. Sebagai anak, Puspita pun mengalami tekanan kejiwaan atas semua perlakuan yang dialaminya.
Puspita hanya pernah tidak masuk dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, tetapi tidak diberi kesempatan menyusulkan tugas, ulangan dan presentasi. Puspita sudah meminta kesempatan itu pada gurunya, tapi sang guru yang bersikukuh tidak memberikan dan kemudian di rapor memberikan nilai nol.

Retno menambahkan, kasus siswa tidak naik kelas dengan alasan tidak lazim sudah beberapa kali terjadi. Misalnya saja siswa SMK 07 Semarang, Zulfa Nur Rahman, yang menganut aliran kepercayaan tidak naik kelas karena Zulfa menolak mengikuti pelajaran agama Islam sehingga tidak ada nilai agamanya. Wajar saja Zulfa menolak, karena dia penganut penghayat. Akibat tidak ada nilai agama maka Zulfa dinyatakan tidak naik kelas. (Andi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *