Selasa , 24 Januari 2017
Home / Berita Pendidikan / Sempat Terpuruk, Kini Fathan Jadi Aktivis Sosial
Fathan
Fathan membagikan 1.000 buku SBMPTN ke Panti Asuhan

Sempat Terpuruk, Kini Fathan Jadi Aktivis Sosial

Edupost.id, Yogyakarta – Kesadaran untuk berbagi dengan sesama tidaklah semua orang memiliki. Terlebih, bagi seorang yang memiliki keterbatasan diri, terutama fisik dan ekonomi. Namun, itu tak berlaku bagi seorang Muhamad Fathan Mubin. Meski menjadi yatim piatu sejak masih duduk di bangku Madrasah Aliyah, mahasiswa Fakultas Psikologi UGM ini justru tergerak untuk berbagi dengan sesama melalui komunitas Celengan Berbagi yang ia dirikan.

“Saya ingin berkontribusi dengan sesama dengan cara yang sederhana. Berbagi tidak harus dengan sesuatu yang besar,” ungkap Fathan dalam perbincangan dengan Edupost.id.

Mahasiswa kelahiran Lebak, 21 Desember 1996 ini mengaku pernah kehilangan semangat hidup. Meninggalnya sang ayah saat masih duduk di kelas VII SMPN 15 Serang membuat semangat hidupnya berkurang. Tahun berikutnya ia memutuskan untuk tinggal bersama kakaknya di Serang. Kelas X MAN 2 Serang menjadi saat yang amat terpuruk dalam hidupnya. Saat itu giliran ibu tercintanya menghembuskan napas terakhir.

“Saya merasa kurang kasih sayang. Saya juga merasa untuk siapa lagi harus berprestasi setelah orang tua tidak ada. Tidak ada lagi alasan untuk hidup,” katanya sedih.

Lingkungan sekitarlah yang akhirnya mengembalikan semangat hidupnya. Ia akhirnya merasa tak lagi sendiri walaupun telah ditinggal orang tua. Semangat hidupnya yang telah kembali akhirnya mengantarkan Fathan untuk terjun dalam aktivitas sosial. Pada tahun-tahun berikutnya ia banyak berkeliling Banten untuk memberikan seminar motivasi kepada siswa SMA.

Aktivitas sosialnya berlanjut hingga ia menjadi mahasiswa UGM. Kesadaran untuk berbagi akhirnya mendorong Fathan untuk membuat aksi bagi-bagi donat kepada para pemulung di area kampusnya pada November 2015 silam. Saat itu, kondisi keuangan yang sulit membuat Fathan harus berjualan donat di kampusnya. Satu boks donat yang tidak habis terjual akhirnya ia bagikan kepada para pemulung.

Usai melancarkan aksi berbagi donat, Fathan justru tak merasa puas. Keinginannya untuk terus berbagi semakin kuat ia rasakan. Ia akhirnya bertekad untuk kembali berbagi. Kali ini bukan donat, tapi nasi bungkus. “Tapi dari mana uangnya?” begitu tanggapan temannya ketika mendengar niat Fathan untuk berbagi nasi bungkus.

“Saya lihat gambar di facebook, ada cewek kaya raya yang pegang celengan. Saya jadi kepikiran kumpulin uang dengan celengan untuk dibelikan nasi bungkus yang akan dibagikan,” ceritanya.

Inilah saat awal mahasiswa asal Banten ini mendirikan komunitas Celengan Berbagi. Ia mengajak teman-temannya untuk mengumpulkan uang dalam celengan. Setelah satu minggu, celengan dibongkar. Uang yang terkumpul akhirnya dibelikan nasi bungkus.

Minggu pertama berhasil membeli 20 nasi bungkus, minggu ke dua 35 nasi bungkus, dan minggu ke tiga 50 nasi bungkus. Tak disangka, pada minggu ke empat Fathan dan teman-temannya berhasil membeli 1.000 nasi bungkus. Keseluruhannya akhirnya berhasil dibagikan di lima kabupaten/kota dan tiga yayasan di DIY.

Kesuksesannya membagikan 1.000 nasi bungkus semakin meletupkan semangatnya untuk berbagi. Iapun mulai membuat beragam program lain. Komunitasnya akhirnya berhasil membagikan 1.000 buku SBMPTN sekaligus memberikan seminar motivasi di sekolah. Celengan Beasiswa menjadi program berikutnya yang berhasil memberikan beasiswa sebesar 1-2 juta perbulan kepada tiga Panti Asuhan di Yogyakarta. Beasiswa ini diberikan selama tiga bulan berturut-turut. “Saya berinisiatif memberikan beasiswa di saat saya sendiri belum mendapat beasiswa,” kenangnya.

Komunitasnya juga mengajar anak-anak kurang beruntung di Panti Asuhan dan di pinggiran Kali Code. Saat ini, Komunitas Celengan Berbagi tengah bersiap untuk membagikan 1.000 seragam baru untuk siswa kurang mampu. Seragam sudah siap untuj dibagkan. Rencananya, seragan itu akan dibagikan saat tahun ajaran baru di SD 7 Inpres Beo Raja Ampat.

Saat bersama anak kurang beruntung itulah, ia sadar bahwa dirinya jauh lebih beruntung. Kisah hidupnya menjadi yatim piatu harus menjadi semangat bagi anak-anak lain yang bernasib sama untuk juga tetap berjuang dan terus berbagi. Itulah yang selalu ia tanamkan dalan diri anak-anak yang ia temui. “Kalau saya jauhi mereka, maka mereka juga tidak akan peduli dengan anak-anak panti yang lain,” pungkasnya. (Andi)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *