Jumat , 20 Juli 2018
Home / Berita Pendidikan / Sistem Penilaian SBMPTN 2018 Dinilai Lebih Fair
Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN)
Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN)

Sistem Penilaian SBMPTN 2018 Dinilai Lebih Fair

Edupost.id – Panitia pusat Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru Perguruan Tinggi Negeri (SN-PMB PTN) 2018 mengubah sistem penilaian seleksi masuk tertulis atau Seleksi Bersama Masuk PTN (SBMPTN) tersebut pada tahun ini.

Sekretaris Panitia Pusat SN-PMB PTN, Prof. Joni Hermana, metode penilaian pada SBMPTN tidak hanya memperhitungkan jumlah soal yang dijawab dengan benar dan salah oleh peserta. Penilaian juga memperhitungkan karakteristik setiap soal, khususnya tingkat kesulitan dan sensitivitasnya dalam membedakan kemampuan peserta.

“Penilaian terhadap jawaban SBMPTN 2018 tidak lagi menggunakan skor 4 (empat) untuk jawaban benar, skor 0 (nol) untuk yang tidak menjawab, dan skor negatif 1 (-1) untuk jawaban yang salah seperti pada SBMPTN 2017, ” ujar
Hermana melalui siaran persnya.

Metode penilaian oleh panitia pusat dilakukan melalui tiga tahap. Tahap pertama, seluruh jawaban peserta SBMPTN 2018 akan diproses dengan memberi skor stau pada setiap jawaban yang benar dan nol untuk setiap jawaan yang salah atau tidak dijawab.

Tahap ke dua, dengan menggunakan pendekatan Teori Response Butir, setiap soal akan dianalisis karakteristiknya. Di antaranya tingkat kesulitan relatifnya terhadap soal yang lain, dengan mendasarkan pada pola response jawaban seluruh peserta tes tahun 2018.

“Dengan menggunakan model matematika, maka akan dapat diketahui tingkat kesulitan soal-soal yang dikategorikan mudah, sedang, maupun sulit,” lanjutnya.

Ke tiga, karakteristik soal yang diperoleh pada Tahap II, kemudian digunakan untuk menghitung skor setiap peserta. Soal-soal sulit akan mendapatkan bobot yang lebih tinggi dibanding soal-soal yang lebih mudah.

Dengan sistem ini, maka setiap peserta yang dapat menjawab jumlah SOAL yang SAMA dengan BENAR, akan dapat memperoleh nilai yang BERBEDA tergantung pada soal mana saja yang mereka jawab dengan benar.

Joni menyontohkan, peserta A dapat menjawab dengan benar 5 soal yaitu nomor 1, 5, 7, 11, dan 13. Sedangkan peserta B juga dapat menjawab 5 soal dengan benar yaitu nomor 1, 5, 9, 12, dan 15.

Kedua peserta tersebut nantinya akan mendapatkan skor akhir yang berbeda. Ini karena butir soal yang dijawab dengan benar oleh peserta A memiliki tingkat kesulitan yang berbeda dengan butir soal yang dikerjakan dengan benar oleh peserta B.

Penskoran ini, menurut Joni, sudah lama digunakan secara meluas di negara-negara maju di Amerika dan Eropa. Dengan menyertakan karakteristik setiap soal dalam penilaian, skor yang diperoleh akan lebih “fair” dan dapat membedakan kemampuan peserta dengan lebih baik. (Andi)

Check Also

Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN)

4.942 Peserta Ikuti Ujian Keterampilan SBMPTN Yogyakarta

Edupost.id – Peserta Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) yang memilih program studi seni …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

=[Tutup Klik 2x]=