Sabtu , 25 November 2017
Home / Berita Pendidikan / Siswa Dibully Mirip Ahok, Disdik Harus Jamin Pendidikannya

Siswa Dibully Mirip Ahok, Disdik Harus Jamin Pendidikannya

Edupost.id – Orangtua SB korban bully yang ditusuk dengan pena dan dijuluki ‘Ahok’ mengaku akan memindahkan anaknya dari SDN Pekayon ke sekolah baru. Pihak SDN Pekayon juga mengaku siap membantu jika SB akan pindah sekolah.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti mengaku sudah mengetahui rencana kepindahan sekolah SB. KPAI, kata Retno, akan menemui Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta pada Senin depan untuk membicarakan jaminan pendidikan SB.

“Khusus pada orangtua ananda SB, KPAI juga akan mendalami rencana kepindahan ananda jika memang hal tersebut demi kepentingan terbaik bagi anak. KPAI akan bersedia membantu mengkomunikasikannya kepada pihak Dinas Pendidikan DKI Jakarta terkait jaminan kelangsungan hak pendidikan ananda SB,” ujar Retno Kamis (2/11).

KPAI akan meminta pihak sekolah dan Dinas Pendidikan membantu sesuai tupoksi masing-masing. Dinas Pendidikan harus tetap menjamin kelanjutan pendidikan SB, jika tetap bersekolah di tempat yang sama atau pindah sekolah baru. Pihak sekolah juga harus siap membantu SB mengejar ketinggalan materi akibat beberaoa hari tidak masuk sekolah.

“Yang perlu dipikirkan sekarang adalah kondisi ananda SB yang sudah tidak masuk sekolah cukup lama, KPAI akan meminta sekolah membantu SB mengejar ketinggalan pelajarannya. Kalau mau pindah sekolah kan harus menunggu rapor semester ganjil yang akan dibagikan pada Desember nanti,”ujar Retno Listyarti.

“Yang pasti, pihak sekolah sudah menyatakan ke KPAI bahwa jika ananda SB masih mau bersekolah di SDN Pekayon maka pihak sekolah menyambut dengan hangat, dan jika ingin pindah sekolah maka pihak sekolah juga siap membantu,” lanjut Retno

Retno melanjutkan, KPAI akan menemui anak-anak pelaku maupun korban SB dan keluarganya beberapa hari ke depan. Saat ini KPAI masih menunggu situasi mereda demi kepentingan psikologis anak-anak.
“Ini kan melibatkan anak-anak, jadi kita harus pikirkan mempertimbangkan kondisi psikologis anak-anak. Selain itu, sekolah harus kondusif demi kepentingan keberlasungan belajar anak-anak lain, apalagi ini jelang akhir semester,” urai Retno.

Kasus ini terungkap pasca viralnya pernyataan bully berupa kekerasan verbal dengan julukan “AHOK” atas korban SB oleh paman korban di media social Facebook. Saat itu, julukan Ahok dirasa positif karena pada 2015 tersebut, Ahok adalah Gubenur yang banyak mendapatkan pujian. Kondisi tersebut memang dibiarkan oleh guru kelas dan guru agama karena menganggap panggilan itu bukan bully.

Namun, pasca Pilkada panggillan Ahok terhadap ananda SB terlontar jika SB melakukan suatu keisengan terhadap teman-temannya di kelas, karena teman yang dijahili tersebut kesal. Saat itulah makna nama Ahok yang sebelumnya positif kemudian bergeser menjadi bermakna negatif. (Andi)

Check Also

stop-bullying-kekerasan

Korban Perundungan Mirip Ahok Punya Sekolah Baru

Edupost.id – Kasus perundungan terhadap siswa SD Pekayon Jakarta Timur berinisial SB beberapa waktu lalu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *