Senin , 25 September 2017
Home / Berita Pendidikan / Surat Larangan Orangtua Pidanakan Guru, Ini Tanggapan Netizen

Surat Larangan Orangtua Pidanakan Guru, Ini Tanggapan Netizen

surat-larangan-pidana-guru

Edupost.id – Di media sosial Facebook kini beredar surat pernyataan SMP Negeri 6 Mataram, Kota Makasar yang menghebohkan netizen. Dalam surat itu, semua calon siswa baru diminta membuat pernyataan tidak akan menuntut jika guru menghukum siswanya. Surat tersebut diposting oleh akun Facebook Cakra Virajati.

“Nah. Coba komentar netizen kayak apa kalo ada sekolah yang begini… Pak anies baswedan juga boleh komen… Atau dirjen pendidikan menengah… Atau komnas anak juga boleh…,” tulis Cakra di akunnya.

Dalam surat yang diposting Cakra, pihak sekolah melarang orangtua melapor polisi jika siswa dicubit sampai merah/biru karena terlambat, dipotong rambutnya karena gondrong, dijemur di lapangan upacara karena tidak mengerjakan tugas, disuruh push up karena berisik di kelas, dijewer karena pakaian tidak rapi, dan hukuman lainnya yang disesuaikan dengan tingkat kesalahan.

Dalam surat pernyataan itu, orang tua/wali juga tidak berhak melaporkan kepada pihak yang berwajib apabila terjadi tindakan karena tidak disiplin, lalai, susah diatur dan meresahkan lingkungan sekolah/guru atau murid lainnya. Munculnya surat itu diduga sebagai respon atas maraknya pelaporan terhadap guru oleh orang tua murid.

Membaca surat itu, beragam tanggapan dilontarkan para netizen di akun ini. Ada yang mendukung, ada pula yang menolak kebijakan yang dibuat sekolah. “Salah satu bentuk langkah melindungi tenaga pendidik. Pake materai sekalian Kalo gak mau silahkan ke swasta,” tulis Lalu Khuznul Muntazi.

“Tapi memang harus begini sekarang, saya setuju… ini bt melindungi guru2 dan supaya anak murid tidak berbuat macam2… jamannya sudah berubah tidak seperti dulu kita, sekarang kebanyakan murid2 tidak hormat lagi ke gurunya,” tulis Afra Humaira Hamzar.

“Sy jg alumni smp 6 mataram dn sy jg seorang guru tpi memang seharusnya semua sekolah sperti ini terlepas dri imej sekolah masing2.. Sudah terlalu byk kasus yg terjadi,” tulis Istie Azizah.

Tanggapan bernada menolak ditulis Lalu Budi Karya. “Mestinya ada undang2 perlindungan guru.. kl perjanjian ini jg maaf agk sepihak dn memaksa. Batasan pemberian hukuman jg tdk jelas,bgm kl krn alasan menghukum berakibat smp parah krn sebab di cubit. Dilema jg,krn alasan undang2 pidana. Barang siapa melakukan Kekerasan trhadap seseorang ttp dianggap perbuatan pidana ga peduli alasannya apa,” tulisnya.

Benni Listiyo menulis, “Gak mau dicubit, ya disiplin aja.”  Tanggapan lain ditulis oleh Eudya Novita. “Dlu gini2 bgt deh pas sekolah tp kalo cubit sampe biru wah serem jg , gak tak skolahin anak sy di sana kak,” tulis Eudya.

“Ngawur kuwi cakra. pendidikan hrs meniadakan kekerasan. anak hrs diajari dg kelembutan dan tanggungjawab. lha kalau didikannya kasar ya…… berabe ki…,” tulis Susilastuti Dn. (Andi)

Check Also

Guru-Dipukul-FSGI-Sekolah-dan-Orangtua-Tidak-Harmonis

Sulitnya Posisi Guru di Masa Kini

Bagaimana susahnya posisi guru di masa sekarang, jika siswa nakal guru disalahkan tetapi guru memberi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *