Jumat , 21 September 2018
Home / Berita Pendidikan / Tahun 2018, Penguatan Pendidikan Karakter Tak Boleh Asal

Tahun 2018, Penguatan Pendidikan Karakter Tak Boleh Asal

Edupost.id – Kebijakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) pada tahun ini diharapkan dapat dipersiapkan dengan lebih baik. Berkaca pada pelaksanaan program tahun 2017 yang masih banyak kekacauan, tahun ini diharapkan lebih baik dari sisi sosialisasi, sistem penilaian, dan target.

Sekjend Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Heru Purnomo mengatakan, pemerintah harus melakukan evaluasi sistem penilaian berbasis PPK dalam Kurikulum 2013. Selama ini masih, kurang adanya sosialisasi, waktu yang terbatas dalam menginput nilai dan banyaknya indikator untuk mengukur sikap spiritual dan sosial yang membuat guru kerepotan.

“Penilaian terkesan asal-asalan dan kurang valid. Harus ada model e-rapor yang mempermudah guru dalam menginput nilai, bukan malah sebaliknya seperti yang terjadi sekarang,” ujar Heru.

Pelaksanaan PPK oleh guru-guru di sekolah, menurut Heru, banyak mengalami kendala. Ini karena minimnya pemberian guru dari pemerintah, apalagi terkait pengintegrasian PPK dalam Kurikulum 2013. Sehingga PPK tersebut hanya sekedar muncul secara administratif dalam dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) guru. Tapi sukar bahkan tidak dalam implementasinya.

Karena yang terjadi penilaian sikap yang merupakan implementasi PPK justru mengalami reduksi makna, sebab guru-guru melakukan penilaian PPK terkesan “asal-asalan”. Karena terkait dengan mendesaknya waktu untuk menginput nilai, apalagi bagi sekolah yang sudah menggunakan e-rapor.

Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim juga setuju bahwa program PPK selama ini masih kurang berjalanndengan baik. Pendidikan karakter yang ingin diwujudkan salah satunya dalam program lima hari sekolah tak berjalan maksimal karena berbagai penolakan.

“Jika guru lebih sibuk mengurus administrasi sekolah, jika guru masih sibuk mencari upaya menambah pendapatan karena jeritan anak istri maka guru akan semakin sulit berkonsentrasi membangun karakter siswa,” katanya.

Membangun karakter, kata Ramli, adalah memberikan keteladanan. Guru dan orang tua tentu saja memiliki peran paling signifikan meskipun ada faktor di antara sekolah dan rumah, di antara guru dan orang tua. (Andi)

Check Also

siswa SD

Mendikbud : SD SMP Harus Utamakan Pendidikan Karakter

Edupost.id – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menegaskan, sekolah-sekolah pada jenjang SD dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

=[Tutup Klik 2x]=