Kamis , 14 Desember 2017
Home / Berita Pendidikan / Tak Dipanggil “Pak”, Guru di Pangkalpinang Pukul Siswanya
Mendidik-Siswa-dengan-Kekerasan-Sudah-Tidak-Zaman
Ilustrasi Guru Marah. (Foto: wordpress)

Tak Dipanggil “Pak”, Guru di Pangkalpinang Pukul Siswanya

Edupost.id – Seorang guru salah satu SMP di Kota Pangkalpinang Bangka Belitung bernama Main menganiaya siswanya. Kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah ini dipicu hal sepele, lantaran korban tak memanggil pelaku dengan panggilan”Pak” saat pelaku tengah mengajar di kelas.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti mengatakan, pihaknya mengutuk keras terjadinya kasus penganiayaan ini. Retno menyebut, selain sadis, oknum guru ini pun melakukan aksi kekerasannya di hadapan siswa yang lain.

“Ini sudah masuk kategori penganiayaan berat, karena tidak sekedar ditampar, tetapi siswa pun dibenturkan kepalanya ke dinding. Diduga akibat benturan tersebut, ananda korban mengalami sakit di kepala,” ujar Retno Senin (6/11).

Saat aksi kekerasan ini berlangsung, sebenarnya siswa lain ada yang berusaha melerai. Namun bukannya berhenti, pelakuu justru makin meningkatkan aksi kekerasannya, bahkan terjadi juga pelemparan kursi.

”Guru semacam ini sangat membahayakan bagi keselamatan psikologis dan fisik anak-anak karena tak mampu mengontrol emosi. Yang bersangkutan harus dievaluasi secara kepegawaian oleh dinas terkait apakah masih patut menjadi guru,” sambung Retno.

Berdasarkan Informasi yang dihimpun, peristiwa tragis ini bermula ketika korban dengan sengaja mengejek pelaku dengan langsung memangil nama tanpa sapaan “Pak”. Saat itu pelaku sedang mengajar di sebuah kelas, dan korban lewat di depan kelas pelaku.

Menganggap muridnya tak sopan, guru matematika itu kemudian mencari siswa yang dianggap berlaku tak sopan itu. Korbanpun akhirnya mengaku bahwa dialah yang telah memanggil gurunya tanpa sapaan “Pak”. Saat itu juga aksi pemukulan dan pembenturan kepala ke dinding terjadi.

Korban sempat dibawa ke Puskesmas Air Itam dan mendapatkan oksigen. Namun, karena korban terus merasakan pusing, keluarga korban kemudian membawa ke RSUD Depati Hamzah untuk mendapatkan perawatan lantaran sempat pingsan setelah terkena pukulan.

“Pihak keluarga tidak terima atas penganiayaan ini dan kemungkinan akan melanjutkan kasus ini ke ranah hukum,” sebut Retno. (Andi)

Check Also

kekerasan dalam pendidikan

KPAI : Juli – November, Aduan Kekerasan di Sekolah Capai 34%

Edupost.id – Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti menyebut, KPAI banyak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *