Senin , 23 April 2018
Home / Berita Pendidikan / Terapkan HOTS, Soal UNBK Sengaja Dibuat Sulit

Terapkan HOTS, Soal UNBK Sengaja Dibuat Sulit

Edupost.id – Mendikbud Muhadjir Effendy menyebut, pemerintah bermaksud menerapkan pola ujian High Order Thinking Skills (HOTS) atau kemampuan berpikir tingkat tinggi pada Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2018. Itu sebabnya soal UNBK khususnya matematika terkesan sulit.

Namun, pernyataan itu mendapat reaksi kritis dari Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI). Menurut FSGI, pola berpikir HOTS yang diberlakukan di UNBK bertolak belakang dibandingkan proses pendidikan di kelas yang masih menggunakan pola berpikir tingkat rendah atau Lower Order Thinking Skills (LOTS).

“Sebagaimana yang kita pahami dalam konteks teori pendidikan, tingkatan keterampilan berpikir atau cognitive skills yang merupakan domain pengetahuan tersebut ada 6 tingkatan/jenjang, kemudian dikenal dengan Taksonomi Bloom (Benyamin S. Bloom) yang direvisi oleh Lorin Anderson (2001),” kata Satriwan Salim, Wakil Sekjen FSGI melalui keterangan tertulisnya.

Dalam tataran praktis pendidikan dikenal istilah C-1 (Mengingat), C-2 (Memahami), C-3 (Menerapkan), C-4 (Menganalisis), C-5 Menilai/Mengevaluasi, dan C-6 (mencipta/Kreasi). Keterampilan berpikir C-1 sampai dengan C-3 disebut keterampilan berpikir tingkat rendah. Sedangkan C-4 sampai C-6 disebut keterampilan berpikir tingkat tinggi”.

“Faktanya, kondisi saat ini para siswa kita masih berpikir di level tingkat rendah (lower order thinking skill), sebagaimana ditunjukkan dalam berbagai assessment internasional, seperti PISA dan TIMSS,” imbuh guru SMA di Jakarta itu.

Keterampilan berpikir HOTS tersebut mestinya bukan dititikberatkan di akhir pembelajaran siswa atau di soal ujian. Berpikir tingkat tinggi itu lebih ditunjukkan ke dalam proses pembelajaran selama tiga tahun itu.

“Menguji seorang anak dengan soal yang tidak pernah diajarkan adalah bentuk ketidakadilan,” kata Mansur, pengurus SGI Mataram yang juga guru SMA di Lombok Barat.

Jika ingin para siswa kita berpikir pada level HOTS, guru harus menampilkan proses pembelajaran yang HOTS pula di dalam kelas. Percuma saja soal-soal ujiannya di level tinggi, tetapi proses pembelajaran siswa tidak pernah menyentuh kemampuan berpikir kritis, evaluatif, dan kreatif.

“Fakta di ruang-ruang kelas selama ini, ketika menjelang UN, para guru dan siswa hanya fokus men-drill soal-soal UN tahun-tahun sebelumnya, try out beberapa kali yang diselenggarkan sekolah dan Dinas Pendidikan setempat, siswa dilatih untuk mampu menjawab soal-soal secara cepat-tepat,” ujar Slamet Maryanto dari Serikat Guru Indonesia (SEGI) Jakarta yang juga guru SMA.

Jadi fakta di lapangan, pembelajaran tidak diarahkan kepada proses menumbuhkan kesadaran dan keterampilan berpikir kritis tersebut di dalam kelas. Pembelajaran tidak lagi menumbuhkan hal-hal kreatif dalam kehidupannya. (Andi)

Check Also

MAN Yogyakarta 1

UNBK di Sekolah Ini Menyenangkan, Ada Ruang Transitnya

Edupost.id – Seluruh siswa peserta Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) MAN 1 Yogyakarta disediakan ruang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

=[Tutup Klik 2x]=