Jumat , 21 Juli 2017
Home / Berita Pendidikan / Ujian Nasional, Potensi Kecurangan Akan Terus Terjadi
Ujian Nasional (UN)
Siswa mengikuti ujian nasional (UN)

Ujian Nasional, Potensi Kecurangan Akan Terus Terjadi

Edupost.id, Bogor – Pemerintah sempat optimis ujian nasional (UN) tahun ini bersih dari kecurangan. Namun, fakta menyebutkan bahwa jual beli kunci jawaban hingga diskusi dan penyebaran soal foto ujian melalui telepon genggam masih mewarnai UN tahun ini. Selama nilai UN masih dijadikan penentu ke jenjang yang lebih tinggi, potensi kecurangan akan terus terjadi.

“Sepanjang UN masih digunakan untuk parameter lain selain pemetaan, maka potensi kecurangan akan terus terjadi. Setiap anak dan orangtua masih menginginkan bisa diterima di sekolah atau Perguruan Tinggi Favorit,” ujar Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti.

Berdasarkan data dari FSGI, pada hari pertama UN,  Posko UN FSGI menerima total 19 laporan yang berasal dari Jakarta, Surabaya, Bogor, Tanjung Redeb (Berau), Kota Palu,  Mamuju, Kota Medan, Lampung dan Pekalongan. Dari 19 laporan tersebut, lima diantaranya berkaitan dengan masih maraknya jual beli kunci jawaban.

FSGI menerima laporan adanya jual beli kunci jawaban Ujian Nasional (UN) 2016 di kota besar. Laporan tersebut diterima pada H-1 UN pada Minggu, (3/4) melalui posko UN yang dibuka FSGI di Jakarta, Surabaya, dan Medan. Selain ketiga kota tersebut, Cimahi, Bima, dan Pare-Pare juga marak adanya jual beli kunci jawaban.

Hal serupa juga disampaikan Sekretaris Umum SEGI Jakarta, Slamet Maryanto tentang maraknya jual beli kunci jawaban. Ia menyebutkan, setiap siswa di Pare-pare mengumpulkan uang sebesar Rp. 300 ribu, siswa di Jakarta Rp. 150 ribu, dan di Cimahi Rp. 20 ribu.  Laporan yang masuk berasal dari orangtua siswa karena anaknya meminta uang untuk membeli kunci jawaban UN.

“Hasil penelusuran FSGI kepada para siswa mengenai pembelian kunci jawaban tersebut diakui oleh banyak siswa, namun mereka mengatakan bahwa tidak mempercayai 100% kunci tersebut, mereka masih tetap belajar, itu hanya untuk jaga-jaga dan kadang tidak dipakai sama sekali,” ujar Slamet Maryanto.

Masalah yang terakhir yaitu masih ditemukannya siswa mencontek melalui HP. “Kedua kasus yang tertangkap membawa contekan ke ruang ujian ini, pelakunya belum sempat menggunakannya karena sudah diketahui pengawas saat ujian baru berlangsung, HP nya saja disita pihak sekolah,”  ujar Sekjen FSGI, Retno Listyarti. (Nisa)

Check Also

Andi Kurniawan, service management region BNI Kantor Wilayah Yogyakarta, memberikan pelatihan kepada para tenaga kependidikan di Fakultas Farmasi UGM.

Tingkatkan Layanan, Fakultas Farmasi UGM Gelar Pelatihan Tenaga Kependidikan

Yogyakarta – Untuk meningkatkan kualitas layanan bagi mahasiswa, mitra, atau tamu, Fakultas Farmasi UGM bekerja …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *