Senin , 5 Desember 2016
Home / Citizen Journalism / Mahasiswa ITS Uji Coba Alat Bantu Penderita Tuna Netra
Mahasiswa ITS Uji Coba Alat bantu Penderita Tuna Netra
Mahasiswa ITS Uji Coba Alat bantu Penderita Tuna Netra (foto: ITS)

Mahasiswa ITS Uji Coba Alat Bantu Penderita Tuna Netra

Edupost.id – Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya melakukan uji coba alat Edu Braille Hardware kepada siswa Sekolah Dasar Tuna Netra (SDLB-A) Tegalsari, Surabaya untuk mencari masukan dari pengajar di sekolah setempat.

“Uji coba itu penting sebelum berlaga dalam final Pagelaran Mahasiswa Nasional Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (GemasTIK) ke-9 di UI Kampus Depok pada 27-29 Oktober 2016,” kata salah seorang perancang Braille Hardware, Rahmat Wahyu Bambang Ari.

Ia menambahkan, Edu Braille tidak bisa diproduksi secara massal karena masih manual, namun dia berharap untuk pengembangan kedepannya bisa diproduksi secara massal di pabrik untuk memberikan kemudahan bagi siswa tuna netra mengenal huruf, seperti mengeja, belajar huruf mati, mengenal angka dan penjumlahan secara cepat dibandingkan dengan buku braille.

“Sebenarnya alat ini sudah terkoneksi dengan smartphone, namun untuk uji coba kali ini belum siap nanti saat lomba sudah kami siapkan. Smartphone itu sendiri agar tenaga pengajar di sekolah tuna netra mudah melihat hasil penilaian para siswa yang belajar menggunakan alat Edu Braille karena hasilnya langsung di input ke smartphone,” kata Rahmat.

Menurut dia, alat itu dibuat bertiga selama satu tahun dengan menghabiskan biaya Rp2 juta. “Kami berharap nantinya bisa menjuarai GemasTIK ke-9 agar bisa membantu para siswa tuna netra,” ujarnya.

“Saya sangat senang dengan alat karya mahasiswa ITS Surabaya ini, untuk memudahkan para siswa tuna netra cepat bisa membaca huruf braille, sebab alat ini juga dilengkapi dengan suara untuk membantu siswa mengetahui kesalahannya,” jelasnya.

Yana menuturkan, para siswa senang dengan suaranya sehingga bisa untuk belajar sekaligus bermain. Sementara menggunakan buku braille ada beberapa siswa tuna netra yang tidak bisa membaca huruf braille hingga kelas enam.

“Ya, dulu sih ada salah satu siswa tuna netra sampai kelas enam tidak bisa membaca huruf braille, dengan adanya alat ini saya sangat berharap semua siswa menjadi cepat bisa membaca huruf braille,” pungkasnya. (Sus)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *