Rabu , 24 Mei 2017
Home / Citizen Journalism /  Penanganan KLB Keracunan Pangan Perlu Ditingkatkan
Institut Pertanian Bogor (IPB)
Institut Pertanian Bogor (IPB)

 Penanganan KLB Keracunan Pangan Perlu Ditingkatkan

Edupost.id- Identifikasi penyebab Kasus Luar Biasa (KLB) keracunan pangan di Indonesia masih perlu peningkatan, baik dari segi sumberdaya manusia (SDM) maupun fasilitas laboratorium. Negara harus meningkatkan kapasitas ilmiah dengan tersedianya laboratorium lengkap dan peralatan yang memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Peningkatan kapasitas surveilan keamanan pangan, kapasitas respon emergensi dan peningkatan pengetahuan SDM tentang keamanan pangan dengan training dan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE).

Selama kurun waktu 2005-2015, dilaporkan bahwa kasus KLB keracunan pangan di Indonesia rata-rata per tahunnya adalah 124 kasus dan agen penyebabnya sudah banyak diketahui. Demikian disampaikan Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Winiati P. Rahayu dalam konferensi pers pra Orasi Ilmiah di Kampus IPB Baranangsiang, Bogor (9/2).

Prof. Winiati memaparkan lima strategi pengendalian permasalahan keamanan pangan, yaitu: penguatan sistem manajemen keamanan pangan; investigasi KLB keracunan pangan; pengembangan metode analisis mikrobiologi; penerapan cara produksi pangan yang baik; serta pembangunan pendidikan dan budaya keamanan pangan.

“Penyebab keracunan pangan sangat penting diketahui agar kerugian kesehatan dan ekonomi dapat dihindari. Contoh kasus, peluang sakit karena konsumsi otak-otak dan siomai yang tercemar bakteri S aureus adalah 1 banding 972 porsi. Kerugian ekonomi karena kasus KLB keracunan pangan di Indonesia pada tahun 2013 adalah 1,2 triliun rupiah,” ujarnya.

Dalam salah satu risetnya, Prof. Winiati menguji 35 sampel Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) tahun 2015 di delapan SD di Bogor. Hasilnya, tidak ditemukan kontaminasi L. Monocytogenes, Salmonella spp atau vibrio spp. Demikian juga halnya pengujian terhadap 65 sampel PJAS berbasis ikan dan 30 sampel kerang tidak dijumpai kontaminasi L. monocytogenes.

“Namun, secara umum PJAS masih membutuhkan perhatian. Laporan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI (2013), masih ada 19,21 % PJAS yang tidak memenuhi syarat keamanan dari 15 ribu sampel yang dianalisis. Khususnya minuman es 41% tidak memenuhi syarat most probable number (MPN) koliform. Penelusuran terhadap 90 orang pedagang minuman es di Bogor menunjukkan masih ada 6,5 % pedagang yang tidak mendidihkan air PAM dan air sumur dan masih terdapat 8% pedagang yang tidak patuh terhadap cara produksi pangan yang baik. Misalnya mencuci tangan sebelum mengolah pangan karena ketiadaan fasilitas air bersih,” terangnya.

Oleh karena itu, mencermati kondisi keamanan pangan pada PJAS, sasaran pendidikan keamanan pangan adalah anak sekolah, guru, orang tua, produsen maupun konsumen pada umumnya.(zul)

 

Check Also

mahasiswa IPB jadikan rambut manusia untuk suburkan tanah

Mahasiswa IPB Suburkan Tanah dengan Rambut Manusia

Edupost.id – Salon dan tempat pangkas rambut menghasilkan sejumlah sejumlah besar limbah rambut manusia yang belum …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *