Sabtu , 22 Juli 2017
Home / Citizen Journalism / Talkshow Inspiratif Temu Bakat Siswa
Talkshow Inspiratif Temu Bakat Siswa
Talkshow Inspiratif Temu Bakat Siswa (foto: Sahabat Pendidik)

Talkshow Inspiratif Temu Bakat Siswa

Edupost.ID- Setiap orang dianugerahi kelebihan dan kekurangan, termasuk potensi minat dan bakat yang berbeda-beda. Jika tidak dikenali dengan baik, maka potensi yang ada pada diri seseorang akan terkubur begitu saja. Alih-alih mengasah minat dan bakat, bisa jadi malah berkutat dengan sesuatu yang tidak jelas.

Agar minat dan bakat yang dimiliki dapat diketahui dan digali dengan baik, Optima Talent Center dari lembaga filantropi Sahabat Pendidik Indonesia, kembali mengadakan talkshow inspiratif dengan judulDiscover #2. Kegiatan bertemakan Explore Potential Through Experiences ini sukses dilaksanakan Ahad (18/12), bertempat di Aula Utama Masjid Al Ghifari IPB, Bogor.

Dengan membidik para pelajar sebagai target utamanya, kegiatan Discover #2 didesain sedemikian rupa agar terjadi interaksi yang aktif antara peserta dengan pembicara. Hal ini bertujuan agar mereka tidak lagi gamang tentang masa depan yang akan dipilih.

“Kami ingin adik-adik pelajar bisa bertanya dan berdiskusi dengan sesamanya, terutama dengan pembicara, tentang minat bakat dan masa depan mereka,” ungkap Muslimah Tri, selaku ketua panitiaDiscover #2.

Talkshow dibuka dengan pembahasan Talents Mapping oleh Cipto Sugiarto, praktisi di bidang pendidikan yang multitalenta. Pada sesi ini, Cipto menjelaskan tentang pentingnya menemukan minat dan bakat masing-masing untuk menjalani masa depan. Para peserta yang telah terlebih dahulu diminta mengisi kuesioner temu bakat, mendengarkan pemaparan Cipto dengan seksama.

“Talents Mapping digunakan untuk menemukan kekuatan individu berdasarkan penemuan bakat pada diri seseorang,” jelas Cipto. Bakat itu kemudian digabungkan dengan skill (keterampilan) danknowledge (pengetahuan) yang dibutuhkan di cita-cita atau profesi yang diinginkan. Dengan Talents Mapping, seseorang mengetahui kelemahan dan kekuataannya sendiri, sehingga dia bisa memilih profesi yang sesuai dengan dirinya.

Kemudian acara dilanjutkan dengan sharing sessiondengan beberapa ahli di bidangnya yang masih relatif muda. Sebagai keynote speaker talkshow kali ini, panitia menghadirkan beberapa praktisi di berbagai bidang, salah satunya adalah Herry Nugraha, Head of Customer Marketing di AkzoNobel, perusahaan multinasional terkemuka. Sejak kecil, pria yang akrab disapa Herry ini memang ingin menjadi orang kaya yang aktif berkegiatan sosial, tetapi tidak membatasi diri terhadap satu pekerjaan tertentu. “Profesi adalah alat menuju cita-cita,” katanya. Herry menuturkan bahwa visi hidupnya saat ini banyak dipengaruhi oleh bahan bacaan yang dibacanya, lingkungan, serta nilai-nilai agama.

“Menentukan visi (hidup) bisa dibantu dengan membaca buku-buku untuk memvisualisasi cita-cita,” jelasnya. “Cara lainnya adalah dengan membayangkan apa yang akan dikatakan orang-orang setelah kita meninggal. Yang penting kita bisa menemukan konsep diri dan sudah memahami diri kita diciptakan untuk apa,” lanjut ketua yayasan Rumah Peradaban Pelajar Indonesia ini.

Lain lagi kisah Oske W. D., pendiri Kanvasilmu, sanggar gambar yang juga memfasilitasi bimbingan masuk ke Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB. Oske, yang memang memiliki minat dan bakat di bidang seni rupa, mencurahkan dirinya di bidang yang ia senangi ini. Beruntungnya lagi, Oske didukung oleh kedua orang tuanya.

“Hobi bisa jadi pekerjaan untuk kita asalkan bisa menemukannya,” aku Oske. Ia memberanikan diri menjadi desainer grafis karena ketika itu sedangbooming. Tetapi, yang ada di benak Oske tidak hanya soal kemudahan mencari pekerjaan. “Kita renungkan lagi, apa yang bisa diberikan (manfaat) bagi orang banyak?” lanjutnya, “Tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga agama dan masyarakat.”

Hadir pula seorang ecopreneur wanita muda dari Salam Rancage, Aling Nur Nolari. Wanita yang biasa dipanggil Aling ini mengaku bahwa jurusan kuliah yang ia ambil ditentukan oleh ayahnya, terlepas dari minat yang dimilikinya. Meski lulus kuliah dengan nilai yang biasa saja, kehidupannya bersama rekan kerja dan keluarganya berjalan bahagia dan penuh warna. Hingga suatu hari, Aling ditimpa penyakit yang membuat ia lumpuh.

Aling berbagi kisah bahwa ketika sakit itu, emosinya terguncang karena ia tidak bisa lagi bekerja sebagaimana biasa. “Ketika itu, saya ingat satu mata kuliah, yaitu olah raga dan seni,” tutur Aling. Ternyata, mata kuliah itulah yang mampu membakar semangatnya untuk terus berkarya, belajar menjahit, membuat kerajinan, yang hasilnya dijual ke masyarakat. Aling mengambil kesimpulan bahwa tidak ada mata kuliah yang tidak berguna, apapun pilihan jurusannya.

“Yang terpenting adalah ridho orang tua. Jangan diremehkan,” pesan Aling. “Kita bisa memancing datangnya ridho Allah melalui ridho orang tua, sehingga kita bisa punya pekerjaan yang bermanfaat bagi orang banyak.”

Selain sesi talkshow inspiratif ini, Discover #2 juga diramaikan dengan mini seminar yang membahas “Tujuh Jurusan Bergaji Besar”. Mini seminar yang dibawakan oleh ketua panitia, Muslimah Tri, diikuti dengan antusias oleh para peserta. Muslimah juga membahas keterampilan apa yang dibutuhkan agar bisa bertahan dalam dunia kerja nantinya.

Discover #2 ditutup dengan training motivasi yang dibawakan oleh Dody Ari Kurniawan, motivator VisiMulia. Di sesi ini, para peserta diminta menuliskan cita-cita dan rencana hidup masing-masing dalam beberapa tahun ke depan. Kemudian, beberapa orang dari mereka diminta membacakannya, diiringi tepukan penyemangat dan doa agar cita-citanya terkabul.

Kegiatan Discover #2 yang digelar oleh Optima TalentCenter adalah salah satu program unggulan dari Sahabat Pendidik Indonesia. “Kami harap dengan kegiatan ini semakin sedikit para pelajar yang salah mengambil jurusan kuliah,” jelas Farid Hardiana, ketua Sahabat Pendidik Indonesia.

Senada dengan harapan tersebut, Shafira Ramadyani Putri, siswi kelas XI SMAN 2 Bogor, mengaku lebih termotivasi dalam menentukan masa depannya. “Acara ini memberikan kejelasan mengenai hal-hal yang perlu dilakukan dalam mencapai tujuan yang dicita-citakan secara realistis, tanpa mengesampingkan unsur religius,” katanya. (Sahabat Pendidik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *