Kamis , 14 Desember 2017
Home / Citizen Journalism / Urgennya Humor dalam Pembelajaran

Urgennya Humor dalam Pembelajaran

Jakarta – Pembelajaran yang menyenangkan merupakan sebuah kondisi yang selalu diinginkan. Tidak hanya bagi peserta didik, dari siswa sampai mahasiswa doctoral sekalipun. Bahkan para pendidik seperti guru dan dosen juga selalu mengidamkan kondisi pembelajaran yang menjadikan peserta didiknya tidak kaku dan kelalahan. Tetapi justru menyenangkan.

Oleh karena itu, urgennya humor dalam pembelajaran menjadi salah satu perhatian Universitas Trilogi dalam usaha meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. “Pendidikan  kita saat ini terlalu membebani peserta didik. Mereka selalu dipaksakan pada penguasaan materialistik, bahkan pada usia dini mereka diwajibkan memahami baca, tulis, dan hitung,” sampai Rektor Universitas Trilogi, Prof. Dr. Asep Saefuddin dalam sambutannya di acara ‘Seminar Pendidikan Humor dalam Pembelajaran Universitas Trilogi.

Ditambahkannya, padahal yang harus dibangun terlebih dahulu itu adalah kondisi mereka dalam belajar. Apakah mereka senang atau tidak. ‘Jika mereka merasa tidak senang dan nyaman, disinilah usaha para guru untuk kreatif agar bagaimana mengubah kondisi yang awalnya tidak nyaman menjadi nyaman dan senang. Salah satunya adalah dengan humor,” sampainya.

Acara yang berlangsung  pada Sabtu (19/12) lalu langsung diisi oleh Komedian Indonesia, Pak Komar dan Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Prof. Dr. Zulela. H. Hurul Qomar yang dikenal dengan sapaan Pak Komar menceritakan humor pada dasarnya merupakan kebutuhan dan menjadi bahan dalam interaksi.

“Bahkan khusus dalam pembelajaran sendiri. Beberapa penelitian mengungkapkan melalui humor bisa menarik perhatian siswa, mengurangi bahkan menghilangkan rasa bosan dalam belajar,”ujar pelawak yang sempat menjadi anggota DPR RI selama dua periode itu.

Sementara itu, Prof. Dr. Zulela dalam salah satu presentasinya juga mengungkapkan lingkungan belajar yang kondusif dapat meningkatkan resapan siswa atas bahan pelajaran yang disajikan. “Beberapa hal yang dapat meningkatkan jumlah informasi yang diserap siswa diantarnya adalah lingkungan belajar yang mendukung (kondusif) dan humor yang diselingi dalam komunikasi siswa-guru,” jelas pakar pengembangan bahasa Indonesia ini.

Sesuai dengan tema acara yang membahas tentang humor. Acara yang dipenuhi oleh gemuruh tawa ini selain diikuti mahasiswa dan dosen, juga diramaikan oleh kehadiran siswa SMA di Jakarta.

Check Also

Tahun 2018 Semua Sekolah Harus Terapkan Kurikulum 2013

Edupost.id – Pada tahun 2018 semua sekolah di Indonesia sudah harus menerapkan Kurikulum 2013. Hal …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *