Jumat , 21 Juli 2017
Home / Internasional / Bocah 9 Tahun Si Jenius Fisika Ini, Dulunya Bukan Anak Pintar

Bocah 9 Tahun Si Jenius Fisika Ini, Dulunya Bukan Anak Pintar

Edupost.ID – Mark Sim, bocah berusia 9 tahun, si jenius fisika. Ia merupakan orang termuda di dunia yang berhasil mendapatkan nilai A dalam International General Certificate of Secondary Education(IGCSE). Walau demikian, Mark dulunya bukan anak pintar.

Mark mulai menyukai Fisika sejak ayahnya mengenalkannya tentang proses kerja sebuah bom atom. “Saya suka listrik dan fisika atom karena ayah saya menjelaskan kepada saya tentang bagaimana bom bekerja. Meskipun saya mendapati bahwa gelombang agak sulit untuk dimengerti,” kata Mark Sim seperti dilansir straitstime.

Saat usia Mark delapan tahun tiga bulan, dia mengambil ujian yang terdiri dari tiga makalah di British Council November lalu. Hasilnya telah disahkan yang menunjukkan bahwa Mark mendapatkan Singapura Book of Records.

Ayah Mark, Mr Harry Sim Lim Onn (48) awalnya menginginkan anaknya untuk mengambil ujian GCE O-level, namun Departemen Pendidikan tidak mengizinkannya. Hal itu disebabkan, pemerintah telah memberlakukan batas usia agar orang tua tidak menempatkan tekanan berlebihan pada anak-anak mereka.

Sim mengungkapkan bahwa Mark telah menunjukkan bakat dalam menangkap konsep fisika dasar sebelum waktunya.

“Saya menjelaskan kepadanya tentang percepatan dan bagaimana mobil saya berbeda dari Ferrari saat ia berusia enam tahun, dan saya terkejut, ia mengerti,” kata manajer bagian di sebuah perusahaan semi-konduktor.

Kemudian, ayah Mark membelikannya buku pelajaran fisika yang seharusnya digunakan siswa berusia 15 tahun ke atas. Mark belajar selama setengah jam setiap hari, sementara di akhir pekan ayahnya melakukan pembinaan untuknya yang menghabiskan waktu hingga tiga jam. Tapi kedua orang tua, lulusan National University of Singapore dengan gelar sarjana ini, ingin menekankan bahwa Mark bukanlah jenius yang terlahir cerdas.

“Mark butuh banyak kerja keras dan tekad, saya menjadikan dia fokus pada sesuatu yang ia benar-benar baik di dalamnya,” kata Sim.

“Bahasa Inggrisnya tidak baik dan dia harus melakukan upaya ekstra untuk meningkatkan kemampuannya untuk sepenuhnya memahami pertanyaan,” ungkap Sim.

Bahkan, pertumbuhan Markus sempat membuat khawatir orangtuanya, yang kuatir bahwa ia mungkin lebih lambat dari anak-anak lain. “Pembantu kami pernah memperingatkan kami untuk tidak berharap terlalu banyak dari Mark. Misalnya, dia tidak bisa berguling sendiri sampai ia berusia sembilan bulan,” ungkap Sim. “Dia juga terus-menerus menjadi yang terakhir saat di TK,” tambahnya. (Iyes)

Check Also

Andi Kurniawan, service management region BNI Kantor Wilayah Yogyakarta, memberikan pelatihan kepada para tenaga kependidikan di Fakultas Farmasi UGM.

Tingkatkan Layanan, Fakultas Farmasi UGM Gelar Pelatihan Tenaga Kependidikan

Yogyakarta – Untuk meningkatkan kualitas layanan bagi mahasiswa, mitra, atau tamu, Fakultas Farmasi UGM bekerja …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *