Kamis , 19 Oktober 2017
Home / Kabar Kampus / Alat Pengolah Limbah Batik Inovasi UI Ini Cegah Pencemaran
Mahasiswa UI pencipta Alat Pengolah Limbah Batik
Mahasiswa UI pencipta Alat Pengolah Limbah Batik

Alat Pengolah Limbah Batik Inovasi UI Ini Cegah Pencemaran

Edupost.id – Pesatnya pertumbuhan industri batik akhir-akhir ini berdampak pada pencemaran lingkungan akibat pembuangan limbah batik yang tak bertanggung jawab. Untuk mencari solusinya, lima mahasiswa Universitas Indonesia (UI) membuat inovasi alat pengolah limbah batik portable yang dinamai Plato.

Kelima mahasiswa tersebut adalah Nur Sharfan (Teknik Kimia) ; Ahmad Shobri (Teknik Elektro) ; Fadhila Ahmad Anindria (Teknik Kimia) ; Rickson Mauricio (Teknik Kimia) dan Muhammad Akbar Buana (Teknologi Bioproses).

Menurut Sharfan, di kota Pekalongan, jenis industri batik yang mendominasi adalah home industry, yang tersebar luas di berbagai bagian kota Pekalongan. Namun, pertumbuhan dari industri batik Pekalongan tidak diiringi dengan sistem pengolahan limbah yang baik. Jumlah IPAL (Instalasi Pengolah Air Limbah) komunal batik di Pekalongan baru ada tiga dengan kapasitas yang belum mampu menampung seluruh limbah produksi dari unit usaha batik.

“Mengingat proses pengecatan dan pemberian warna pada kain menghasilkan limbah yang tidak sedikit jumlahnya dan berakhir dengan dibuang di sistem perairan setempat, maka kami peduli untuk mencari solusi akan masalah limbah tersebut.  Alat yang kami ciptakan menggunakan teknologi elektrokoagulasi dan fotokatalis sehingga dapat mendegradasi limbah batik secara optimal,” paparnya.

Plato menjadi sebuah prototipe alat pengolah limbah portable yang dirancang sedemikian rupa agar mudah digunakan oleh para pelaku home industry Batik. Dengan kombinasi metode elektrokoagulasi dan fotokatalis, unit ini dapat mengolah limbah jamak secara simultan, seperti limbah warna, limbah organik serta limbah logam berat.

Plato memiliki keunggulan diantaranya dapat digunakan secara mobile, dapat digunakan secara bergantian oleh tiap pelaku usaha dalam suatu kawasan tanpa harus mengumpulkan limbah hasil pencucian batik ke IPAL. Dengan demikian, jumlah limbah yang dibuang ilegal ke sungai dapat berkurang. (IK-SS)

Check Also

Inovasi ITB Masuk Tiga Besar Swiss Innovation Challenge 2017

Inovasi ITB Masuk Tiga Besar Swiss Innovation Challenge 2017

Edupost.id – Tiga inovasi mahasiswa ITB berhasil keluar sebagai juara di ajang Swiss Innovation Challange …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *