Kamis , 27 Juli 2017
Home / Kabar Kampus / Atasi Polusi Udara, Mahasiswa ITS Kembangkan Alat Reduksi Gas
Atasi Polusi Udara, Mahasiswa ITS Kembangkan Alat Reduksi Gas
Atasi Polusi Udara, Mahasiswa ITS Kembangkan Alat Reduksi Gas (foto: ITS)

Atasi Polusi Udara, Mahasiswa ITS Kembangkan Alat Reduksi Gas

Edupost.id – Ancaman polusi udara yang membahayakan kesehatan mendorong lima mahasiswa ITS menciptakan alat pereduksi gas buang. Berkat inovasi tersebut, mereka berhasil meraih Gold Prize dalam ajang The 3rd International Young Inventors Award 2016.

Lewat penelitiannya berjudul In-Plasma Catalyst Technology: Metode Pengurangan Limbah Pembakaran Gas Kendaraan Bermotor, tim ini berhasil unggul pada kategori chemistry or textile. Tim tersebut berhasil menyisihkan universitas lain di tingkat Asia. Niat hati hanya untuk publikasi, tim yang digawangi oleh Rahadian Abdul R, Estu Yoga Elmi Gesa, Dwi Jayanti PM, Karima, dan Dimas Bagus S ini ternyata bisa memikat hati dewan juri.

Penelitian ini, lanjut Rahadian, didasarkan pada hasil emisi gas buang yang dihasilkan selama pembakaran sepeda motor untuk diolah menjadi hasil emisi ramah lingkungan. Hal ini, sambungnya, karena emisi memiliki efek buruk pada lingkungan. “Misalnya saja gangguan sistem pernapasan pada makhluk hidup,” terang mahasiswa Jurusan Kimia ini.

Ia menambahkan, dengan meningkatnya populasi maka industri kendaraan bermotor juga akan meningkat dan turut pula meningkatkan polusi gas buang. “Namun selain pada kendaraan bermotor, alat ini juga bisa diimplementasikan pada cerobong limbah pabrik dan sistem pembuangan kapal,” terangnya.

Prakteknya, knalpot kendaraan bermotor, misalnya saja sepeda motor, diberikan sebuah reaktor yang di dalamnya terdapat plasma dan sebuah katalis MnO2. Untuk menjalankan reaksi dibutuhkan juga alat pembangkit listrik.

Adapun hasil dari gas buang yang telah disaring melalui alat tersebut dapat menghasilkan senyawa air, karbon dioksida, dan nitrogen yang ramah bagi lingkungan. “Kita sudah uji coba juga di Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Hasilnya menjadi tidak berbahaya lagi karena senyawa-senyawa tersebut mudah diikat tumbuhan untuk keperluan fotosintesis,” tuturnya.

Pemilihan MnO2 sebagai katalis, dijelaskan Rahadian, dikarenakan mudah didapat di alam. Senyawa yang juga terdapat dalam batu baterai ini diakuinya membuat reaksi lebih cepat ketimbang senyawa lain. “Bentuk katalisnya pun kita padatkan seperti pelet yang terbukti bisa mempermudah jalannya reaksi. Semakin banyak katalis semakin banyak gas buang yang tereduksi,” ungkap anak dari pasangan Siti Mardiah dan Raji ini. (ITS/ IK-SS)

Check Also

Ifud Pertahankan Gelar Mawapres Nasional Diploma ITS

Ifud Pertahankan Gelar Mawapres Nasional Diploma ITS

Edupost.id – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali mempertahankan predikat juara pertama Mahasiswa Beprestasi (Mawapres) Program …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *