Senin , 29 Mei 2017
Home / Kabar Kampus / BEM KM UGM Persoalkan Kebijakan UKT Kampusnya

BEM KM UGM Persoalkan Kebijakan UKT Kampusnya

Edupost.ID, Yogyakarta – Sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) semestinya dapat membantu meringankan biaya kuliah mahasiswa golongan ekonomi lemah. Namun, ternyata pada prakteknya tidak sesuai harapan. Di UGM misalnya, Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) UGM mencatat ada beberapa kasus UKT yang tidak tepat sasaran, seperti adanya mahasiswa bidikmisi yang justru mendapat UKT tertinggi.

“Tujuan UKT sebenarnya meringankan biaya pendidikan yang disesuaikan kemampuan masing-masing. Tapi menurut saya UKT belum bisa mewujudkan tujuan itu,” demikian diungkapkan Presiden BEM KM UGM, Muhamad Ali Zainal di kampusnya Minggu (24/1).

Ali menambahkan, ada beberapa hal yang menjadi catatan buruk UKT di UGM. Secara umum catatan buruk itu menurut Ali mungkin terjadi juga di kampus lain.

Pertama, mekanisme penurunan UKT UGM masih sulit. Jika seorang mahasiswa sudah dinyatakan masuk pada UKT tertentu dan merasa tidak mampu dengan biaya yang dibebankan, seharusnya UGM menurunkan nilai UKT mahasiswa itu. Namun, pada kenyataannya tidak terjadi. “UGM khawatir akan menurunkan pemasukan jika menurunkan range UKT mahasiswa,” imbuh Ali.

Kedua, dikatakan Ali, penentuan range atau besaran UKT tidak boleh hanya berdasarkan penghasilan orang tua. Ali mencontohkan, orang yang berpenghasilan 5 juta rupiah tetapi harus menanggung biaya dua anaknya yang kuliah dan dua anaknya yang sekolah di SMA tidak boleh disamakan dengan orang yang berpenghasilan sama hanya menanggung satu anaknya yang kuliah. Namun, pada penentuan besaran UKT keduanya diperlakukan sama. Inilah yang disebut Ali sebagai tidak adil.

Selain itu Ali juga mencatat bahwa selisih penghasilan orang tua yang kecil menghasilkan perbedaan besaran UKT yang tidak sedikit. “Misalnya orang tua berpenghasilan 1.000.000 mendapat UKT 600 ribu. Orang tua yang berpenghasilan 1.050.000 akan mendapat UKT lebih besar yang selisihnya ratusan ribu,” lanjut Ali. Ini terjadi karena dua nilai penghasilan orang tua itu berada pada range UKT yang berbeda.

Ali juga menyebut, ada mahasiswa bidikmisi yang mendapat UKT tertinggi karena terlambat input data. “Kalau telat input otomatis masuk UKT tertinggi,” kata Ali.

Oleh karenanya, BEM KM UGM berharap ada evaluasi UKT secara nasional karena diyakini persoalan UKT tidak hanya terjadi di UGM. Pemangku kebijakan di perguruan tinggi juga harus melibatkan mahasiswa ketika membuat kebijakan UKT ini. Secara khusus, Ali berharap UGM membuat besaran UKT yang lebih adil sesuai kemampuan keuangan mahasiswa.

Mengenai besaran UKT di UGM bergantung prodi masing-masing. Untuk kedokteran masih menyentuh angka 22,5 juta per semester. (Andi)

Check Also

SBMPTN

Pendaftaran SBMPTN Masih Dibuka hingga 9 Mei

Edupost.id – Pendaftaran Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) masih dibuka hingga besok, 9 Mei …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *