Rabu , 29 Maret 2017
Home / Kabar Kampus / Berkat JECO-Gasoline, Tim UGM Raih Penghargaan Internasional
UGM jeco-gasoline
Mahasiswa UGM mengembangkan Jeco-gasoline (foto: UGM)

Berkat JECO-Gasoline, Tim UGM Raih Penghargaan Internasional

Edupost.id, Yogyakarta – Tim mahasiswa UGM berhasil mengolah biogasoline dari minyak jelantah (JECO-Gasoline). Bahan bakar ramah lingkungan tersebut terbukti mampu menghidupkan mesin kendaraan bermotor. Berkat penemuan itu, tim UGM meraih empat penghargaan di tingkat internasional.

Tim mahasiswa UGM itu terdiri dari Abdul Afif Almuflih dan Khoir Eko Pamudi dari Departemen Kimia FMIPA serta Endri Geovani dari Departemen Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian.

Penghargaan tersebut, antara lain gold medal dari World Invetion Intellectual Property Association (WIIPA) , gold medal dari Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA), bronze medal dari Malaysian Technology Expo (MTE) 2016, dan special award dari Toronto International Society of Innovation & Advanced Skillis (TISIAS) Kanada. Selain itu, mereka juga memperoleh beberapa penghargaan lain dari sejumlah kompetisi di tingkat nasional.

Abdul Afif menyebutkan, pemilihan minyak jelantah karena bahan ini belum banyak dimanfaatkan masyarakat dan hanya dibuang begitu saja. Sementara, jumlah minyak jelantah ini cukup berlimpah. Minyak jelantah merupakan minyak goreng yang dipakai secara berulang, jika digunakan terus bisa menimbulkan efek buruk bagi kesehatan tubuh.

Tim UGM mencari metode yang tepat untuk memproses minyak jelantah menjadi biodiesel. Mereka memanfaatkan reaksi hydrocracking untuk mengonversi minyak jelantah menjadi biogasolin. Mereka menggunakan tanah liat atau clay yaitu bentonit terpilar alumina (AI) yang mudah didapat di alam. Lalu tanah liat diaktifkan dengan logam kadium (Cd) sebagai katalisatornya.

Produksi biogasolin dimulai dengan pembuatan katalis sebagai media konversi minyak jelantah. Selanjutnya, proses produksi dilakukan melalui proses hydrocracking. Minyak jelantah dipanaskan dalam tanur listrik kemudian akan menguap mengalir melewati katalis. Setelah itu, hasilnya akan menetes menjadi campuran biogasolin dan biodiesel yang selanjutnya dipisahkan menggunakan metode destilasi.

Abdul menambahkan, hasilnya bisa memproduksi sekitar 42 persen biogasolin (bensin) dan 29 persen biodiesel (biosolar). Dengan begitu, dalam 1 liter minyak bisa memproduksi sekitar 420 ml yang terdiri dari 240 ml biogasolin dan 180 biodiesel.

Endri Geovani menjelaskan, katalis yang mereka kembangkan dapat digunakan secara berulang. Dengan demikian memungkinkan masyarakat untuk memproduksi sendiri biogasoline atau biodiesel dari minyak jelantah maupun minyak goreng fresh. (UGM/ IK-SS)

Check Also

Sheffield student union

Beasiswa S2 di Inggris dari Allan dan Nesta Ferguson

Edupost.id – Beasiswa S2 di Inggris secara penuh diberikan melalui Allan & Nesta Ferguson Charitable Trust Masters Scholarship. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *