Minggu , 22 Januari 2017
Home / Kabar Kampus / Berkat Menara Helixponix ITB, Lahan Pertanian Sempit Bukan Masalah Lagi

Berkat Menara Helixponix ITB, Lahan Pertanian Sempit Bukan Masalah Lagi

JAKARTA – Lahan pertanian saat ini kian sempit digerus oleh pembangunan. Karena itu, dibutuhkan inovasi di bidang pertanian agar bisa memanfaatkan lahan yang sempit menjadi lebih efektif. Teknik menanam sayur tanpa tanah dengan metode aeroponik menjadi salah satu solusinya. Bahkan, inovasi yang dilakukan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), Brian Ivander ini bisa semakin mengefektifkan penggunaaan lahan yang terbatas.

Mahasiswa jurusan teknik mesin, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) itu menciptakan menara sayur helixponix. Penemuannya ini memberikan fleksibilitas dalam menanam sayur menggunakan teknik aeroponik.

Brian merancang menaranya berbentuk spiral seperti rantai DNA untuk memberikan lebih banyak ruang pertumbuhan bagi tanaman di lahan terbatas.

Ia membuat empat tingkat pada menara sayur helixponix-nya. Level satu adalah yang terendah tempat tanaman siap panen. Level dua adalah tempat tanaman yang hampir siap panen. Kemudian di level tiga ada tanaman muda. Dan pada tingkat tertinggi, yaitu level empat merupakan tempat bibit tanaman ditanam.

Dengan model seperti itu, bila kita menanam selada menggunakan menara sayur helixponix, kita akan menanam dari puncak menara dan memanen hasilnya di bagian bawah menara.

Sebagai contoh, bibit selada ditanam pada pot di bagian atas menara. Kemudian pada hari berikutnya, kita akan memanen di bagian bawah menara.

Menara ini secara otomatis akan membuat pot-pot tanaman di level keempat akan turun ke level tiga, pot di level tiga turun ke level dua dan pot di level dua akan akan turun ke bagian paling bawah. Selada-selada itu akan terus bertumbuh hingga siap dipanen pada usia 28-30 hari.

Seberapa cepat kita menginginkan pot-pot tersebut turun tergantung dari seberapa sering kita memanen di bagian bawah menara. Pot-pot tanaman akan lebih cepat turun jika kita memanen 20 selada daripada lima selada per hari.

Ia menyebutkan, tanaman muda membutuhkan ruang untuk tumbuh dari tanaman yang lebih tua. Karena itu, menara sayur ini juga dirancang dengan jarak tertentu antara satu pot dengan pot lainnya. Jarak antar pot di bagian paling bawah, misalnya, lebih besar karena selada siap panen butuh ruang lebih banyak. (ITB/IL-IK)

Check Also

Antraks Serang Ternak di Kulonprogo, UGM Himbau Masyarakat Tetap Waspada

Antraks Serang Ternak di Kulonprogo, UGM Himbau Masyarakat

Edupost.ID – Dalam beberapa waktu terakhir, masyarakat di wilayah Yogyakarta diresahkan dengan kabar kasus antraks …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *