Kamis , 19 Oktober 2017
Home / Kabar Kampus / ISI Yogyakarta Gelar Acara 24 Jam Tabuh Gamelan
Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta
Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta

ISI Yogyakarta Gelar Acara 24 Jam Tabuh Gamelan

Edupost.id – Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta jurusan Karawitan akan menggelar acara 24 Jam Menabuh pada Selasa-Rabu (5-6/9) mendatang bertempat di Concert Hall dan gedung FSP ISI Yogyakarta. Acara ini akan dibuka secara resmi oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 5 September 2017.

Ketua Pelaksana Siswandi menuturkan, acara ini digelar untuk mengenang 40 tahun peluncuran pesawat tanpa awak Voyager oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Amerika (NASA). Pada peluncuran itu, dilengkapi alat pemutar data rekaman audio, salah satunya gending Ketawang Puspawarna.

“Gending Puswawarna ini pernah diputar di luar angkasa tahun 1977. Kita pilih tanggal 5 September itu sebagai peringatan 40 tahun diluncurkan pesawat tanpa awak oleh NASA yang juga memutar Gending Puswawarna,” katanya.

Gending Puswawarna merupakan salah satu gending kebesaran Keraton Mangkunegaran. Gending itu diciptakan Mangkunegaran IV kemudian direkam di Keraton Pakualaman. Salah satu empu karawitan yang menjadi pioner perekaman itu adalah Wasitodiningrat.

Acara tersebut melibatkan lebih dari 1.000 penabuh gamelan (pengrawit). Ribuan penabuh gamelan tersebut dibagi dalam 29 kelompok karawitan, yang tak hanya dari mahasiswa ISI Yogyakarta saja, tetapi juga ada pengrawit dari luar kampus.

Nantinya, akan ada lima kelompok profesional, lima kelompok karawitan wanita, tiga kelompok karawitan tingkat SMTA, tiga kelompok anak-anak serta satu kelompok hadroh dari Kulonprogo. Selain itu, terdapat juga 13 kelompok dari UKM perguruan tinggi. Kelompok Karawitan Bali Purantara Yogyakarta dan Sanggar Tari Bali Saraswati Yogyakarta.

Sementara itu, Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Yudi Aryani mengatakan, kegiatan ini diharapkan dapat merekatkan jalinan silaturahmi antar seniman. Selain itu juga dapat membangun kebersamaan antara kesenian karawitan Yogyakarta dan sekitarnya dengan ISI Yogyakarta.

“Kita juga ingin lebih mengingatkan kembali bahwa karawitan sudah mendunia dan diakui dunia sebagai warisan budaya yang luhur,” katanya. (Andi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *