Selasa , 30 Mei 2017
Home / Kabar Kampus / Mahasiswa ITS Ciptakan Aplikasi Cegah Kebakaran Hutan

Mahasiswa ITS Ciptakan Aplikasi Cegah Kebakaran Hutan

SURABAYA – Tiga mahasiswa ITS berhasil menciptakan aplikasi untuk mencegah kebakaran hutan. Penemuan tersebut mereka tuangkan dalam karya tulis yang berjudul “Aplikasi Penginderaan Jauh (Inderaja) dan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk Deteksi Area Bekas Terbakar Berdasarkan Normalized Burn Ratio (NBR)”. Dalam penelitian tersebut, mereka mampu membuat peta daerah terbakar pada Kabupaten Rokan Hilir dan Kabupaten Dumai, Provinsi Riau serta informasi mengenai luas daerah yang terbakar.

Ketiga mahasiswa Jurusan Teknik Geomatika ITS tersebut yakni Resti Yully Astuti, Ghulam Arfi Ghifari, serta Agita Setya Herwanda. Berkat penelitian itu, mereka berhasil meraih predikat The Best Prototype dalam Lomba Geospasial Inovatif Nasional (LOGIN) 2015 di Yogyakarta, (29/11) lalu.

Resti menuturkan, data yang dibutuhkan tidak sedikit. Mulai dari peta administratif Kota Dumai dan Kabupaten Rokan Hilir, peta hotspot 2014, peta lahan gambut (lahan bersuhu tinggi, red) Provinsi Riau 2013, hingga peta citra dari satelit Landsat 8. Data tersebut selanjutnya diolah menggunakan algoritma NBR.

Kemudian, Resti dan tim membuat overlay pada peta-peta tersebut menggunakan software ER Mapper dan ArcGIS untuk menentukan presisi lokasi kebakaran.

Ide untuk membahas kebakaran hutan di Riau ini berawal dari pengalaman Arfi dan Agita selama kerja praktek (KP) di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Di sana, permasalahan paling krusial yang tengah dibahas adalah mengenai banyaknya kebakaran hutan di Indonesia.

Ke depannya, Resti dan timnya ingin melanjutkan penelitian dari data yang telah mereka peroleh. Mereka akan melakukan validasi data melalui penelusuran secara langsung ke lapangan dengan metode fotogrametri dan terestris agar data yang diperoleh semakin presisi.

Terinspirasi dengan kebijakan Australia dalam menghadapi kebakaran hutan, ia ingin menerapkan metode pembangunan parit di sekitar wilayah Dumai dan Rokan Hilir yang rawan terbakar. Ia menyebutkan, peran ahli Geomatika kembali diperlukan untuk menentukan posisi parit yang strategis. (ITS/IK-SS)

Check Also

Forum Industri Pangan

Kemenristekdikti Gelar Forum Industri Pangan Menuju Kemandirian Pangan

Bogor – Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI siap menjembatani terbangunnya konsep kolaborasi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *